Nabi Adam dan Hawa melanggar apa yang menjadi larangan Allah di surga, yakni makan buah dari pohon terlarang. Karenanya untuk menebus atau menyucikan diri dari dosa yang telah diperbuat, Adam dan Hawa diturunkan ke bumi. Sebagaimana mereka diciptakan oleh Allah untuk menjadi khalifah di muka bumi ini.

Adam dan Hawa turun ke muka bumi bersama Iblis juga. Adam turun di sebuah gunung di Sarandib, sedangkan Hawa turun di bukit Marwah, Makkah dan iblis turun di lembah Garam, Basrah dekat perairan Teluk. Jauh sebelum mereka turun ke bumi, sudah terdapat kehidupan, baik hewan-hewan maupun tumbuh-tumbuhan.

Adam bersujud dan mohon ampun tiada henti sesampainya di bumi. Meskipun telah berbuat dosa, Adam dan Hawa mendapatkan ampunan Allah. Allah mengirim Adam ke muka bumi ini untuk menguji dirinya. Apakah Adam mengikuti dan menyembah Allah atau malah justru ia berpaling terhadap perintah Allah, lebih mengikuti iblis.

Bertemu dengan Hawa

Adam teringat akan istrinya. Mereka turun ke bumi ini terpisah jarak yang jauh. Ia sangat ingin bertemu dengan orang yang ia cintai. Namun ia tak tahu dimana keberadaan istrinya, Hawa. Ia juga tak tahu harus melangkahkan kaki kemana untuk mencari Hawa. Meskipun begitu, ia pun berjalan menyusuri bumi ini untuk mencari keberadaan Hawa.

Malaikat turun ke bumi dan mengatakan kepada Adam, “Hawa ada di suatu tempat yang jauh di bumi, ia sedang menunggumu. Ia sendirian. Ia sedang mencarimu. Jika engkau mengikuti jalan ini, maka engkau akan menemukannya.”

Adam pun segera berangkat mengikuti apa yang dikatakan malaikat. Ia diliputi perasaan penuh harap agar dapat bertemu istrinya lagi.

Ia berangkat mencari istrinya dengan telanjang kaki, tanpa alas. Ia berjalan bermil-mil jauhnya. Saat ia lapar, ia makan dari tumbuh-tumbuhan liar. Ketika hari mulai menjadi gelap, ia mencari tempat yang aman untuk beristirahat. Kala itu, hewan-hewan buas masihlah amat banyak.

Adam menempuh perjalanan selama berhari-hari. Siang dan malam ia terus berusaha sekuat tenaga berjalan untuk mencari istrinya. Hingga akhirnya, ia telah sampai di Makkah. Ia merasakan bahwa di tempat inilah atau di bukit inilah nantinya ia akan bertemu dengan Hawa.

Di sisi lain, Hawa juga sedang menunggu kedatangan Adam. Namun, ia juga tak tinggal diam begitu saja. Ia juga berusaha untuk mencari Adam. Ia pergi ke puncak-puncak bukit, berharap melihat atau menemukan Adam. Namun, ia tak melihat keberadaan Adam. Ia mendaki terus dan terus, dari bukit satu ke bukit lainnya.

Suatu hari ketika Hawa berada di suatu puncak sebuah bukit, ia melihat dengan amat jeli kesana dan kemari. Ia melihat ada seseorang datang sedang menuju ke arahnya. Hawa tahu bahwa itu adalah Adam meskipun nampak dari kejauhan. Segera ia menuruni bukit dan berlari menuju ke arah orang tersebut. Ia merasa bahagia dan penuh harap dapat bertemu dengan Adam.

Pertemuan yang diharapkan dan dinanti pun terjadi. Adam dan Hawa bertemu di suatu tempat yang teduh dari sebuah bukit. Adam dan Hawa menangis karena bahagia bisa bertemu dengan orang yang dicintai. Mereka pun tak lupa bersyukur kepada Allah karena telah mempertemukan mereka kembali.

Kehidupan di muka bumi tak seperti kehidupan di surga. Jika di surga tak ada siang dan malam, tak ada binatang buas, tak ada pergantian musim, itu semua memang hanya ada di bumi. Lalu Adam dan istri memilih suatu daerah nan indah guna mereka tinggali. Tumbuh-tumbuhan dan buah-buahan sembarang macam tumbuh di tempat tersebut.

Kini, Adam harus bekerja untuk keberlangsungan hidup mereka. Mereka tinggal di dalam gua sebelum mereka membangun pondok kayu. Adam bekerja keras sampai dirinya merasa lelah. Adam dan Hawa juga menanam benih, memanen, menggiling dan membuat adonan serta memanggang dua roti untuk mereka makan.

Waktu terus berlalu hingga suatu hari, Hawa melahirkan dua bayi laki-laki dan dua bayi perempuan. Penduduk bumi pun bertambah dan genap menjadi enam orang. Adam dan Hawa hidup bahagia bersama putra dan putrinya. Adam dan Hawa memberi nama putranya, Habil dan Qabil, sedangkan putrinya diberi nama Iqlima dan Loza.

Habil dan Qabil, pergi mengikuti ayahnya untuk belajar dan bekerja. Mereka belajar kepada ayahnya tentang cara membajak tanah dan menggembala ternak. Sedangkan Iqlima dan Loza, membantu ibu mereka mengurus rumah. Hidup mereka bergantung pada aktivitas, kerja dan usaha mereka.

Wafatnya Adam

Hari demi hari berlanjut. Pasca kematian Habil, selama 40 hari Adam menangisinya. Ia menyayangkan perbuatan Qabil kepada saudaranya. Namun Allah memberi tahu padanya agar tak bersedih karena kelak ia akan dikaruniai putra sebaik Habil.

Adam bersyukur akan ketetapan Allah. Ia mendapat seorang putra yang ia beri nama Syith. Adam dan Hawa bersama keluarga hidup bahagia meski mereka juga khawatir tentang keadaan Qabil yang entah dimana keberadaannya.

Suatu hari, Adam meyuruh Syith mengambilkan beberapa butir anggur. Syith pun menuruti perintah ayahnya. Ia mengambil beberapa butir anggur untuk Adam. Namun, sebelum sempat mencicipi anggur yang diambilkan Syith, Adam telah wafat. Ia hidup selama seribu tahun dan kembali ke surga. []

 

Diceritakan ulang oleh Danny Setiawan Ramadhan dari buku “The Greatest Stories of Al-Qur’an” karya Syekh Kamal As Sayyid

 

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here