الحَمْدُ لِلَّهِ الَذِي لَمْ يُخلَقِ الجِنُّ وَالْإِنْسُ إِلاَّ لِيَعْبُدُوْهُ. أَحْمَدُهُ سُبْحَانَهُ حَمْدَ عَبْدٍ يَخَافُ مِنْهُ وَيَرْجُوْهُ. وَأَشْهَدُ أَنْ لاَ إِلَهَ إِلاَّ الله وَحْدَهُ لاَ شَرِيْكَ لَهُ. وَأَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ الَذِيْ دَعَا أُمَّتَهُ إِلَى التَوْحِيْدِ وَأَوْصَاهُمْ بِأَنْ يَخَافُوا اللهَ وَيَتَّقُوْهُ، اللَّهُمَّ صَلِّ عَلَى عَبْدِكَ وَرَسُوْلِكَ مُحَمَّدٍ وَآلِهِ وَأَصْحَابِهِ الَذِيْنَ آزَرُوْهُ وَنَصَرُوْهُ. وَسَلَّمَ تَسْلِيْمًا كَثِيرًا. أَمَّا بَعْدُ.

يَا أَيُّهاَ الَّذِيْنَ ءَامَنُوا اتَّقُوا اللهَ حَقَّ تُقَاتِهِ وَلاَ تَمُوْتُنَّ إِلاَّ وَأَنتُمْ مُّسْلِمُوْنَ. يَا أَيُّهَا النَّاسُ اتَّقُوْا رَبَّكُمُ الَّذِيْ خَلَقَكُمْ مِّنْ نَفْسٍ وَاحِدَةٍ وَخَلَقَ مِنْهَا زَوْجَهَا وَبَثَّ مِنْهُمَا رِجَالاً كَثِيْرًا وَنِسَآءً وَاتَّقُوا اللهَ الَّذِيْ تَسَآءَلُوْنَ بِهِ وَاْلأَرْحَامَ إِنَّ اللهَ كَانَ عَلَيْكُمْ رَقِيْبًا. يَا أَيُّهَا الَّذِيْنَ ءَامَنُوا اتَّقُوا اللهَ وَقُوْلُوْا قَوْلاً سَدِيْدًا. يُصْلِحْ لَكُمْ أَعْمَالَكُمْ وَيَغْفِرْ لَكُمْ ذُنُوْبَكُمْ وَمَنْ يُطِعِ اللهَ وَرَسُوْلَهُ فَقَدْ فَازَ فَوْزًا عَظِيْمًا.

أَمَّا بَعْدُ؛ فَإِنَّ أَصْدَقَ الْحَدِيثِ كِتَابُ اللهَ، وَخَيْرَ الْهَدْيِ هَدْيُ مُحَمَّدٍ صَلَّى الله عَلَيْهِ وَسَلَّمَ وَشَّرَ الأُمُورِ مُحْدَثَاتُهَا وَكُلَّ مُحْدَثَةٍ بِدْعَةٌ وَكُلَّ بِدْعَةٍ ضَلاَلَةٌ وَكُلَّ ضَلاَلَةٍ فِى النَّارِ. اَللَّهُمَّ صَلِّ عَلَى مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِهِ وَصَحْبِهِ وَمَنْ تَبِعَهُمْ بِإِحْسَانٍ إِلَى يَوْمِ الدِّيْنِ.

Ma’asyiral muslimin rakhimakumullah!

Sesungguhnya kehidupan orang mukmin di dunia ini memiliki tujuan. Tujuannya adalah meraih ridha Allah Azza wa Jalla. Mencapai jannah yang luasnya seluas langit dan bumi dan itu adalah kemenangan yang nyata. Allah U berfirman yang artinya,

فَمَنْ زُحْزِحَ عَنِ النَّارِ وَأُدْخِلَ الْجَنَّةَ فَقَدْ فَازَ وَمَا الْحَيَاةُ الدُّنْيَا إِلَّا مَتَاعُ الْغُرُورِ

“Barangsiapa dijauhkan dari neraka dan dimasukkan jannah (surga), maka sungguh ia telah beruntung. Kehidupan dunia itu tidak lain hanyalah kesenangan yang memperdayakan.” [ QS. Ali Imran : 185 ].

Ya, tujuannya adalah mencari ridha Allah. Meggapai surga karena surga adalah tempat tinggal yang pertama, tempatnya yang asli. Hal ini sebagaimana firman Allah U berfirman,

وَقُلْنَا يَا آَدَمُ اسْكُنْ أَنْتَ وَزَوْجُكَ الْجَنَّةَ وَكُلَا مِنْهَا رَغَدًا حَيْثُ شِئْتُمَا

“Wahai Adam, diamilah oleh kamu dan istrimu surga ini, dan makanlah makanan-makakanannya yang banyak lagi baik di mana saja yang kamu sukai.” [ QS. Al Baqarah : 35 ].

Jannah (surga) adalah tempat tinggal ayah kita, lalu ayah kita dikeluarkan darinya dengan perbuatan musuh kita, Iblis yang dilaknat Allah, yang menipu ayah kita dan istrinya dengan makan dari pohon yang dilarang Allah untuk dimakannya. Allah Ta’ala berfirman, “?nampaklah bagi keduanya aurat-auratnya dan mulailah keduanya menutupinya dengan daun-daun surga. Kemudian Rabb mereka menyeru mereka, ‘Bukankah Aku telah melarang kamu berdua dari pohon kayu itu dan Aku katakan kepadamu, ‘Sesungguhnya setan itu adalah musuh yang nyata bagi kamu berdua’.” [ QS. Al A’raf “ 22 ]

Tujuan seorang muslim di dunia ini adalah sampai ke tempat tinggal tersebut, karena ia adalah tempat tinggal kemuliaan dan senikmat-nikmatnya tempat tinggal bagi orang yang bertakwa, disamping ia juga merupakan tempat tinggal keselamatan. Allah Ta’ala berfirman, “Bagi mereka (disediakan) darussalam (surga) pada sisi Rabbnya dan Dialah pelindung mereka disebabkan amal-amal saleh yang selalu mereka kerjakan.” [ QS. Al An’am : 127 ].

Mereka sampai ke rumah itu karena tempat tinggal itu adalah tempat tinggal yang dimuliakan Allah Azza wa Jalla yang di dalamnya bisa melihat wajah-Nya yang Maha Mulia. Surga juga merupakan tempat tinggal yang di dalamnya berkumpul para nabi, sidiqin, syuhada, dan orang-orang saleh. Surga adalah tempat tinggal yang seseorang tidak melihat dan mendengar di dalamnya kecuali kebaikan pula. Allah Azza wa Jalla berfirman, “Doa mereka di dalamnya ialah ‘Subhanakallahumma’ dan salam penghormatan mereka ialah: ‘Salam’. Dan penutup doa mereka ialah ‘Alhamdulillahi Rabbil ‘aalamin’.” [ QS. Yunus : 10 ].

Namun, yang menjadi pertanyaan adalah amalan apakah yang bisa menghantarkan seorang mukmin ke surga yang luas tesebut, yang seorang mukmin bila berjalan di bawah naungan satu pohon selama 100 tahun, maka ia belum bisa melewati naungan tersebut. Di dalam surga tersebut berada dalam kenikmatan dan amat senang. Mereka tidak haus dan tidak pula menjadi tua renta, tidak sakit, tidak mati, tidak tidur, dan tidak bosan, awet muda dan pakaiannya tidak akan usang atau rusak. Tempat tinggal ini haruslah dicapai dengan amal. Allah Ta’ala berfirman, Itulah syurga yang akan Kami wariskan kepada hamba-hamba Kami yang selalu bertakwa [ QS. Maryam : 63 ].

Ma’asyiral muslimin rakhimakumullah!

Diantara amal-amal yang diperintahkan Allah Ta’ala untuk meraih jannah-Nya adalah :

Pertama, keimanan yang benar serta keyakinan yang kuat. Iman yaitu keyakinan yang kuat kepada Allah Ta’ala, malaikat, kitab dan rasul-Nya , hari kiamat, dan takdir-Nya yang baik maupun yang buruk. Iman yang tidak becampur dengan keraguan, iman yang murni kepada Allah U dengan segala apa yang telah diberitahukannya dari persolan yang gaib dan apa yang juga diberitahukan oleh Rasulullah sallallahu ‘alaihi wasallam. Karena, surga itu diharamkan bagi orang yang kafir, musyrik, dan yang ragu atau menentang. Allah Ta’ala berfirman :

إِنَّهُ مَن يُشْرِكْ بِاللّهِ فَقَدْ حَرَّمَ اللّهُ عَلَيهِ الْجَنَّةَ وَمَأْوَاهُ النَّارُ وَمَا لِلظَّالِمِينَ مِنْ أَنصَارٍ

“Sesungguhnya orang yang mempersekutukan (sesuatu dengan) Allah, maka pasti Allah mengharamkan kepadanya surga, dan tempatnya ialah neraka, tidaklah ada bagi orang-orang yang zalim itu seorang penolong pun.” [ QS. Al Ma’idah : 72 ].

“Dan penghuni neraka menyeru penghuni surga:

“Limpahkanlah kepada kami sedikit air atau makanan yang telah dirizqikan Allah kepadamu.” Mereka (penghuni surga) menjawab: “Sesungguhnya Allah telah mengharamkan keduanya itu atas orang-orang kafir, (yaitu) orang yang menjadikan agama mereka sebagai main-main dan sendau gurau, dan kehidupan dunia telah menipu mereka….” Itulah pahala mereka di sisi Allah harus dengan iman yang kuat.

Kedua, adalah jujur. Jujur kepada Allah Ta’ala, jiwa, dan manusia. Jujur artinya keselarasan antara yang terucap dengan kenyataannya. Jadi, kalau suatu berita sesuai dengan keadaan yang ada, maka dikatakan benar atau jujur, tetapi kalau tidak, maka dikatakan dusta. Kejujuran itu ada pada ucapan, juga ada pada perbuatan, sebagaimana seorang yang melakukan suatu perbuatan, tentu sesuai dengan yang ada pada batinnya. Seorang yang berbuat riya’ tidaklah dikatakan sebagai seorang yang jujur karena dia telah menampakkan sesuatu yang berbeda dengan apa yang dia sembunyikan (di dalam batinnya). Demikian juga seorang munafiq tidaklah dikatakan sebagai seorang yang jujur karena dia menampakkan dirinya sebagai seorang yang bertauhid, padahal sebaliknya. Hal yang sama berlaku juga pada pelaku bid’ah; secara lahiriah tampak sebagai seorang pengikut Nabi, tetapi hakikatnya dia menyelisihi beliau. Yang jelas, kejujuran merupakan sifat seorang yang beriman, sedangkan lawannya, dusta, merupakan sifat orang yang munafik. Rasulullah sallallahu ‘alaihi wasallam bersabda,

عَلَيْكُمْ بِالصِّدْقِ فَإِنَّ الصِّدْقَ يَهْدِى إِلَى الْبِرِّ وَإِنَّ الْبِرَّ يَهْدِى إِلَى الْجَنَّةِ وَمَا يَزَالُ الرَّجُلُ يَصْدُقُ وَيَتَحَرَّى الصِّدْقَ حَتَّى يُكْتَبَ عِنْدَ اللَّهِ صِدِّيقًا وَإِيَّاكُمْ وَالْكَذِبَ فَإِنَّ الْكَذِبَ يَهْدِى إِلَى الْفُجُورِ وَإِنَّ الْفُجُورَ يَهْدِى إِلَى النَّارِ وَمَا يَزَالُ الرَّجُلُ يَكْذِبُ وَيَتَحَرَّى الْكَذِبَ حَتَّى يُكْتَبَ عِنْدَ اللَّهِ كَذَّابًا

“Hendaklah kalian jujur, karena kejujuran itu akan memberi petunjuk kepada kebaikan. Dan kebaikan akan memberi petunjuk kepada surga. Dan seseorang itu masih dalam keadaan jujur dan mencari kejujuran sehingga Allah pun menulisnya sebagai orang yang jujur. Dan hendakhlah kalian menjauhi dusta. Karena dusta itu akan memberi petunjuk kepada kemaksiatan. Dan kemaksiatan itu akan memberi petunjuk kepada neraka. Dan seseorang masih dalam keadaan dusta dan mencari kedustaan, sehingga Allah pun menulis sebaga orang yang dusta.” [ HR. Muslim ].

Imam Ibnul Qayyim berkata, “Iman asasnya adalah kejujuran (kebenaran) dan nifaq asasnya adalah kedustaan. Maka, tidak akan pernah bertemu antara kedustaan dan keimanan melainkan akan saling bertentangan satu sama lain. Allah mengabarkan bahwa tidak ada yang bermanfaat bagi seorang hamba dan yang mampu menyelamatkannya dari azab, kecuali kejujurannya (kebenarannya). Allah berfirman, “Ini adalah suatu hari yang bermanfaat bagi orang-orang yang benar kebenaran mereka.” [QS. al-Maidah :119]

Dan kejujuran yang paling tinggi adalah kejujuran di dalam memegang sumpah setia dan menunaikan janji dengan dakwah hingga titik darah penghabisan. Seperti yang diisyaratkan oleh Allah dalam firman-Nya yang menunjukkan hanya sebagian orang yang mampu berbuat demikian.

مِنَ الْمُؤْمِنِينَ رِجَالٌ صَدَقُوا مَا عَاهَدُوا اللَّهَ عَلَيْهِ فَمِنْهُمْ مَنْ قَضَى نَحْبَهُ وَمِنْهُمْ مَنْ يَنْتَظِرُ وَمَا بَدَّلُوا تَبْدِيلًا

“Di antara orang-orang mukmin itu ada orang-orang yang menepati apa yang telah mereka janjikan kepada Allah; maka di antara mereka ada yang gugur. Dan di antara mereka ada (pula) yang menunggu- nunggu dan mereka tidak merubah (janjinya)”. [ QS. Al-Ahzab: 23 ].

Lalu sebab yang ketiga, adalah sabar dan bersyukur atas qadha’ dan taqdir Allah Ta’ala.

Rasulullah sallallahu ‘alaihi wasallam bersabda

:عَنْ أَنَسٍ ، قَالَ : قَالَ رَسُوْلُ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ : « الإِيْمَانُ نِصْفَانِ : نِصْفٌ فِي الصَبْرِ ، وَنِصْفٌ فِي الشُكْرِ »

Dari Anas berkata, bersabda Rasulullah : Iman itu ada dua bagian, bagian yang pertama ada dalam kesabaran dan sebagian pada syukur. [ HR. Baihaqi, Syu’abul iman ].

Seorang mukmin hidup di dunia ini dalam keadaan susah payah. Allah Ta’ala berfirman: “Sesungguhnya Kami telah menciptakan manusia berada dalam susah payah.” Dunia adalah penjara bagi orang mukmin dan surga bagi orang kafir. Maka, yang diminta bagi orang mukmin adalah bersabar terhadap apa yang menimpa badannya, dirinya, keluarganya, hartanya, anaknya, sabar terhaap qadha’ Allah dan taqdir-Nya karena Allah Ta’ala telah memberitahukan bahwa sabar itu balasannya adalah surga. Allah Azza wa Jalla berfirman,

إِنَّمَا يُوَفَّى الصَّابِرُونَ أَجْرَهُمْ بِغَيْرِ حِسَابٍ

“Sesungguhnya hanya orang-orang bersabarlah yang dicukupkan pahala mereka tanpa batas.” [ Az Zumar : 10 ].

Terakhir, marilah kita renungkan hadist Rasulullah sallallahu ‘alaihi wasallam :

عَجَبًا لأَمْرِ الْمُؤْمِنِ، إِنَّ أَمْرَهُ كُلَّهُ خَيْرٌ لَهُ، وَلَيْسَ ذَاكَ لأَحَدٍ إِلاَّ لِلْمُؤْمِنِ، إِنْ أَصَابَتْهُ سَرَّاءُ شَكَرَ فَكَانَ خَيْرًا لَهُ وَإِنْ أَصَابَتْهُ ضَرَّاءُ صَبَرَ فَكَانَ خَيْرًا لَهُ

“Sungguh mengagumkan perkara seorang mukmin. Sungguh seluruh perkaranya adalah kebaikan baginya. Yang demikian itu tidaklah dimiliki oleh seorangpun kecuali seorang mukmin. Jika mendapatkan kelapangan ia bersyukur, maka yang demikian itu baik baginya. Dan jika ia ditimpa kemudaratan/kesusahan1 ia bersabar, maka yang demikian itu baik baginya.” (HR. Muslim no. 7425)

Kita berdoa semoga Allah melimpahkan surga kepada kita. Dan, melimpahkan perkataan dan perbuatan yang bisa mendekatkan kepada jannah tersebut. Kita juga berlindung kepada Allah dari neraka dan berlindung dari perkataan maupun perbuatan yang mendekatkan kepada neraka, amin.

 

بَارَكَ اللهُ لِيْ وَلَكُمْ فِي الْقُرْآنِ الْعَظِيْمِ، وَنَفَعَنِيْ وَإِيَّاكُمْ بِمَا فِيْهِ مِنَ اْلآيَاتِ وَالذِّكْرِ الْحَكِيْمِ. أَقُوْلُ قَوْلِيْ هَذَا وَأَسْتَغْفِرُ اللهَ الْعَظِيْمَ لِيْ وَلَكُمْ

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here