Mempersiapkan generasi di masa yang akan datang. Hal ini harus menjadi salah satu visi hidup kita. Generasi yang akan memimpin umat. Mengarahkan mereka menuju kebaikan. Menjadikan Al Qur’an dan Sunnah sebagai pedoman hidup. Menjadikan Allah sebagai satu-satunya yang ditaati dan ditunduki. Dunia menjadi damai dengan kalimatut tauhid.

Kondisi kehidupan manusia hari ini secara umum, dan kaum muslimin secara khusus bisa dibilang banyak yang carut marut. Kehilangan arah dan tujuan hidup. Karena mereka jauh dari pemahaman yang lurus terhadap Al Qur’an dan sunnah. Padahal Al Qur’an dan Sunnah merupakan pedoman hidup.

Oleh karenanya, kita yang memiliki kesadaran akan hal ini harus bersama-sama, bersatu padu, berjuang membimbing umat menuju kebaikan. Memimpin dan mengarahkan umat kembali kepada tujuan utama mereka diciptakan. Yaitu tunduk dan patuh kepada Allah semata.

Maka, memunculkan pemimpin adil bagi umat menjadi tugas setiap kita. Adil dalam artian Al ‘adaalah. Yaitu sebuah sifat yang tertanam dalam diri, yang akan mendorongnya untuk menjauhi dosa besar dan kecil. Sifat yang akan menjadikannya selalu menjaga diri dari perkara-perkara mubah yang menjatuhkan muruah (kehormatan dirinya) sebagai seorang muslim. Di antara sifat tersebut adalah taqwa, waro’, jujur, amanah, menjaga adab sosial, dan beriltizam (berpegang teguh) dengan syariat islam.

Memunculkan pemimpin umat yang memiliki ‘adalah merupakan beban berat yang harus dipanggul bersama-sama. Karakter-karakter pemimpin yang adil harus digembleng sejak dini. Semenjak masa kanak-kanak hingga usia dewasa. Dimulai dari hal-hal yang sederhana, semisal meminta kepada si kecil untuk memimpin doa ketika makan bersama. Ini juga bagian dari mengajarkan kepada mereka tentang leadership.  Hingga nanti kita mengajarkan kepada mereka di masa dewasanya tentang konsep imamatul udzma atau nidzomul hukmi baik secara teori maupun praktek dalam kehidupan bermasyarakat.

Jika sifat-sifat ‘adalah itu sudah muncul pada generasi ini. Mereka pasti akan mendapatkan kepercayaan dari umat untuk membimbing mereka. Dan tentunya bukan hanya calon pemimpinnya saja yang kita siapkan. Masyarakat pun juga harus mendapatkan edukasi dan tarbiyah tentang tujuan utama hidup manusia. Yaitu agar tunduk dan patuh kepada Sang Pencipta.

Jika masyarakat sudah tercelup tarbiyah. Dan sadar akan tujuan hidup. Mereka akan merindukan sosok pemimpin yang ‘adil untuk membimbing mereka menuju kehidupan yang diridhoi Robbnya. Gayung bersambut. Bertepuk kedua belah tangan. Menyiapkan pemimpin yang memiliki sifat ‘adaalah dan masyarakat yang sadar akan tujuan hidup, siap dipimpin dan diarahkan, siap sami’na wa atho’na. Tepat seperti imam meluruskan barisan shof sholat siap menghadap Allah menghambakan diri, tunduk, patuh, dan pasrah dengan ucapan sang pemimpin “Sawwuuu sufuufakum, fainna taswiyyatas sufuufi min tamaamis sholaah”,  para makmum (yang menjadi gambaran masyarakat) menjawab seruan sang imam (yang menjadi gambaran pemimpin yang ‘aadil) dengan serempak, mantab, dan kompak “Sami’naa wa atho’na” (sendiko dawuh, kami mendengar dan kami taat). Allahu ta’ala a’lam

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here