Pertanyaan : Bagaimana hukum memanfaatkan uang zakat untuk pembangunan asrama Pesantren atau masjid ?

Jawaban : Zakat secara bahasa bermakna : Bertambah dan berkembang, sedangkan maknanya secara Syar’I adalah : Harta tertentu yang dikeluarkan di waktu tertentu dan disalurkan kepada kelompok tertentu. Kelompok yang berhak menerima zakat sudah ditentukan Allah Ta’ala dalam firman-Nya :

إِنَّمَا الصَّدَقَاتُ لِلْفُقَرَاءِ وَالْمَسَاكِينِ وَالْعَامِلِينَ عَلَيْهَا وَالْمُؤَلَّفَةِ قُلُوبُهُمْ وَفِي الرِّقَابِ وَالْغَارِمِينَ وَفِي سَبِيلِ اللَّهِ وَابْنِ السَّبِيلِ فَرِيضَةً مِنَ اللَّهِ وَاللَّهُ عَلِيمٌ حَكِيمٌ

“Sesungguhnya Zakat-zakat itu hanyalah untuk orang-orang faqir, miskin, pengurus-pengurus zakat, para muallaf yang dibujuk hatinya, (memerdekakan) budak, orang-orang yang berhutang, untuk Jalan Allah dan untuk mereka yang sedang dalam perjalanan, ketetapan yang diwajibkan Allah, dan Allah maha mengetahui dan maha bijaksana.” (At Taubah : 60)

Faqir adalah : orang yang tidak memiliki apa-apa, Miskin adalah : Orang yang memiliki sesuatu tapi tidak cukup untuk kebutuhan sehari-hari, Amil adalah : Petugas zakat yang ditunjuk pemimpin dan dia diberi zakat didasarkan kadar pekerjaannya, Muallaf adalah : orang yang baru masuk Islam, hatinya masih lemah dan ada kemungkinan kembali kepada kekufuran, Riqob adalah : Membebaskan budak, Ghorim adalah : Orang yang punya hutang dan tidak ada kemampuan untuk melunasinya, Fi Sabilillah adalah : Para Mujahidin yang sibuk di medan jihad dan segala kebutuhan lain dalam jihad, Ibnu Sabil adalah : Musafir yang kehabisan bekal dan terputus dari keluarga atau teman-temannya.

Kalau kita lihat delapan kelompok penerima zakat, maka disimpulkan bahwa Penggunaan dana zakat untuk pembangunan asrama pesantren dan masjid adalah termasuk sesuatu yang tidak diperbolehkan. Ada sebagian orang yang berpendapat, bahwa : Pembangunan asrama pesantren dan masjid masuk dalam kategori Fi Sabilillah, pemahaman ini tidak benar dan tidak sesuai yang dipahami para ulama. Imam Ibnu Katsir berkata tentang : Fi Sabilillah : Maka diantara mereka adalah orang-orang yang berperang yang tidak mendapatkan gaji dari negara. Imam Ahmad, Al Hasan dan Ishaq menambahkan makna fi Sabilillah dengan haji. Dalam Mausu’ah Fiqhiyah disebutkan : Para Fuqoha’(ahli Fiqih) berpendapat : Tidak boleh menyalurkan zakat kepada proyek-proyek kebaikan sebagaimana yang sudah dijelaskan, maka dana zakat tidak digunakan untuk membangun jalan, masjid, begitu juga jembatan. Syaikh Shalih Al Utsaimin juga berkata : Adapun pengkhususan makna Fi Sabilillah dengan : Jihad adalah tidak diragukan lagi. Pendapat ini menyelisihi pendapat yang memaknai Fi Sabilillah dengan : Setiap proyek kebaikan. makna (fi Sabilillah) didasarkan penafsiran ini  : Setiap proyek yang dengannya ditujukan ridho Allah yang mencakup membangun masjid, memperbaiki jalan, membangun sekolah, mencetak buku dan yang lainnya dari setiap perkara yang dengannya diharapkn ridho Allah Ta’ala, karena setiap kebaikan yang dengannya diharapkan ridho Allah Ta’ala tidak terbatas. akan tetapi pendapat ini lemah, karena kalau seandainya kita tafsirkan ayat ini(At Taubah : 60) dengan penafsiran ini, maka pembatasan kelompok yang berhak menerima zakat(sebagaimana yang disebutkan di awal ayat) tidak ada manfaatnya.

Kesimpulan : Tidak diperbolehkan menggunakan dana zakat untuk pembangunan asrama pesantren dan masjid. Pembangunan Asrama pesantren dan masjid tidak termasuk delapan golongan yang Allah Ta’ala sebutkan dalam surat At Taubah ayat 60. Penggalangan dana pembangunan masjid dan asrama pesantren bisa diambilkan dari dana wakaf atau infak yang lainnya.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here