Pertanyaan :

Ada salah satu keluarga kami yang menjadikan ayat-ayat Al Qur’an sebagai bentuk penolak bala’ dan Qoddarollah  hal tersebut memang benar-benar memberi manfaat kepadanya. Apakah perbuatan ini termasuk yang diperbolehkan atau termasuk sesuatu yang dilarang ?? karena sejauh yang kami lihat dalam hal ini, satu sisi, kami melihat bahwa yang dijadikan jimat adalah ayat-ayat Al Qur’an dan pada sisi yang lain, bahwa perbuatan ini mirip dengan perdukunan.

Jawaban :

Hukum memakai jimat yang berupa tulisan-tulisan yang tidak jelas dan tidak berasal dari ayat-ayat Al Qur’an maupun hadist nabi merupakan sesuatu yang dilarang, hal itu didasarkan hadist :

مَنْ عَلَّقَ تَمِيْمَةً فَقَدْ أَشْرَكَ.

“Barangsiapa menggantungkan jimat, maka ia telah melakukan syirik.”(HR. Ahmad)

Adapun jika kejadiannya(pemakaian ayat-ayat Al Qur’an untuk penolak bala’) sebagaimana yang antum tanyakan, maka para ulama berbeda pendapat. Para ulama dari kalangan Malikiyah, Syafi’iyyah, Hanafiyah dan salah satu riwayat dari Imam Ahmad memperbolehkan hal ini. Adapun riwayat lain dari Imam Ahmad menyebutkan larangan melakukan hal ini.  Berikut ini nukilan perkataan ulama yang memperbolehkan hal tersebut :

Imam Nawawi berkata : Al Baihaqi meriwayatkan dengan sanad yang shahih dari Said bin Musayyib, bahwasannya beliau memerintahkan menggantungkan Al Qur’an dan berkata : Tidak mengapa dengannya. Imam Baihaqi berkata : Ini semua kembali kepada apa yang kami katakan, jika ruqyah dilakukan dengan sesuatu yang tidak diketahui, atau sebagaimana yang terjadi pada zaman jahiliyah dengan menambahkan sesuatu yang menjadikan sembuh maka hal ini tidak diperbolehkan. Sedangkan jika ruqyah dilakukan dengan kitabulloh atau dengan sesuatu yang diketahui dari dzikir kepada Allah dan bertabaruk dengannya dan dia berkeyakinan turunnya penyembuhan dari Allah Ta’ala, maka hal ini tidak mengapa.

Ibnu Hajar al Asqolani berkata dalam kitab Fathul Bari setelah menyebutkan hadist-hadist yang melarang menggantungkan jimat : Ini semua berlaku dalam menggantungkan jimat-jimat dan yang semisalnya yang di dalamnya tidak ada  Al Qur’an atau semisalnya, adapun jika di dalamnya ada dzikir kepada Allah maka tidak ada larangan padanya, maka sesungguhnya ia menjadikan Al Qur’an untuk bertabaruk dan berlindung dengan nama-nama-Nya dan dzikir kepada-Nya.

Para ulama yang berpendapat : Larangan secara mutlak penggunaan jimat(pendapat yang masyhur dari Imam Ahmad dan merupakan pendapat Ibnu Mas’ud) baik yang bersumber dari Al Qur’an maupun yang lainnya mendasarkan pendapat mereka dengan hujah-hujah berikut :

  1. Keumuman larangan penggunaan jimat, baik dari Al Qur’an maupun yang lainnya dan tidak adanya pengkhususan dalam larangan tersebut.
  2. Di dasarkan kaidah Saddu Dzaroi’ , karena jika hal itu diperbolehkan akan membuka pintu terhadap seseorang memakai jimat yang berasal dari selain Al Qur’an atau hadist Nabi.
  3. Dengan menggantungkan jimat yang terbuat dari Al Qur’an tersebut, akan mengarahkan seseorang terhadap menghinakan ayat-ayat Al Qur’an, karena bisa saja dia masuk kamar mandi dalam kondisi memakai tulisan ayat-ayat Al Qur’an tersebut.

Kesimpulan :

  1. Hendaknya bagi seorang muslim untuk selalu bertawakal kepada Allah Ta’ala dengan selalu berdo’a dan menggantungkan setiap perkara kepada-Nya.
  2. Berdasarkan pendapat jumhur(mayoritas) Ulama, diperbolehkan menggantungkan jampi-jampi yang berdasarkan dari ayat-ayat Al Qur’an atau do’a-do’a yang bersumberkan dari hadist-hadist shahih, dengan syarat :
  3. Wajib bagi orang tersebut untuk berkeyakinan bahwa yang memberikan kesembuhan adalah Allah Ta’ala. Menggantungkan ayat-ayat Al Qur’an adalah sebagai sebuah wasilah tabaruk dengan Al Qur’an, yang dengannya Allah Ta’ala memberikan kesembuhan kepada orang yang menggantungkan.
  4. Jangan sampai dengan seseorang menggantungkan ayat-ayat Al Qur’an tersebut sebagai wasilah kesembuhan, menjadikan seseorang menjadikan jimat selain ayat Al Qur’an sebagai wasilah mencari kesembuhan.
  5. Dalam pemakaiannya hendaknya memperhatikan adab terhadap ayat-ayat Al Qur’an, dengan tidak membawanya ke kamar mandi atau tempat-tempat yang di larang yang lainnya.
  6. Jika dalam menggantungkan ayat-ayat Al Qur’an, menjadikan seseorang berpaling dari petunjuk Allah atau menjadikan orang-orang awam memahami diperbolehkannya memakai jimat dengan tidak memperhatikan rambu-rambu di atas, maka sebaikanya dia menghentikan dari melakukan hal ini.
  7. Seseorang yang menggantungkan jimat dengan ayat-ayat Al Qur’an hendaknya dibarengi dengan tauhid yang lurus dan pemahaman yang mendalam batasan-batasan diperbolehkannya dalam melakukan hal tersebut. Ia juga selalu menjelaskan kepada masyarakat awam agar jangan sampai terjerumus kepada pemakaian jimat yang mengarah kepada kesyirikan.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here