Pertanyaan : Pada hari ini, kita melihat banyak pengurus masjid yang menyuruh anak kecil yang belum baligh untuk mengumandangka adzan. Apakah perbuatan ini termasuk perkara yang diperbolehkan atau merupakan sesuatu yang dilarang dalam pandangan syar’I ?

Jawaban : Adzan adalah Pemberitahuan datangnya waktu shalat fardhu dengan lafaldz-lafaldz khusus dan sifat-sifat yang sudah ditetapkan syar’i. Tata cara pelaksanaan adzan harus sesuai dengan apa yang dicontohkan Rasulullah Shallallahu Alaihi Wasallam.

Berkaitan dengan hukum adzan anak kecil yang belum sampai umur mumazziy(belum bisa membedakan yang baik dan buruk, -+ sebelum berumur 7 tahun) maka para ulama bersepakat bahwa adzan mereka tidak sah. Hal tersebut dikarenakan mereka tidak menyadari dan mengetahui apa yang mereka kerjakan, karena di antara syarat sahnya adzan adalah : Islam, berakal dan laki-laki. Imam Ala’uddin Abu Bakar bin Mas’ud bin Ahmad al Kisani(salah satu ulama Hanafiyah) Pengarang kitab Badai’us Sonai’ berkata : “Adapun adzan anak kecil yang belum berakal maka tidak sah dan harus diulang, karena suara yang keluar dari orang yang tidak berakal tidak terhitung sebagaimana suara burung.” Imam Ibnu Qudamah(ulama Hanabilah) pengarang kitab al Mughni juga berkata : “Kami tdak mengetahui padanya(tidak sahnya adzan anak kecil yang belum mumazziy) perselisihan pendapat di antara ulama.”

Adapun hukum adzan anak kecil yang belum baligh dan dia sudah sampai umur mumazziy, maka dalam hal ini ada tiga pendapat di kalangan ulama :

  1. Jumhur(mayoritas) ulama berpendapat : Adzan anak kecil yang belum baligh dan sudah mumayyiz adalah sah akan tetapi dimakruhkan. Pendapat ini merupakan pendapat Imam Syafi’I, Imam Abu Hanifah, Imam Al Atho’, Ibnu Abi Laila. Mereka berargumen dengan atsar :

عن عبد الله بن أبي بكر بن أنس قال : كان عمومتي يأمروني أن أؤذن لهم و أنا غلام و لم أحتلم و أنس بن مالك شاهده و لم ينكر ذلك.

“Dari Abdullah bin Abi Bakar bin Anas : Adalah paman – pamanku memerintahkan kepadaku untuk mengumandangkan adzan untuk mereka sedang saya adalah anak kecil yang belum baligh, pada waktu itu Anas bin Malik melihat hal itu dan tidak mengingkarinya.”

  1. Pendapat yang kedua mengatakan bahwa : Adzan anak kecil yang belum baligh dan sudah mumayyiz adalah tidak sah. Pendapat ini merupakan pendapat ulama dari kalangan malikiyah. Mereka berargumen : Adzan disyariatkan untuk pemberitahuan masuknya waktu shalat, pemberitahuan masuknya waktu shalat tidak dapat dilakukan anak kecil yang belum baligh, karena mereka adalah orang yang tidak diterima kabar dan riwayat, begitu juga tidak dipercaya perkataanya. Terkadang mereka tidak mengetahui kapan tergelicirnya matahari dan kapan bayang benda sama dengan bendanya.
  2. Pendapat yang ketiga adalah pendapat pertengahan, yaitu : Adzan yang menggugurkan dengannya fardhu kifayah penduduk desa dan dengannya dijadikan pijakan dalam waktu shaum dan shalat, maka jenis adzan ini tidak boleh dilakukan anak kecil yang belum baligh. Adapun adzan-adzan yang sifatnya Sunnah Muakkadah yang dilakukan di beberapa masjid dan tidak dijadikan pijakan dalam penentuan waktu shalat dan shaum, maka tidak mengapa adzan dilakukan anak mumazzis yang belum baligh. Pendapat ini merupakan pendapat yang dipilih Syaikhul Ismal Ibnu Taimiyah dan Syaikh Shalih al Utsaimin.

 

Kesimpulan :

  1. Hendaknya perkara adzan dilakukan orang-orang yang terpenuhi syaratnya : Islam, Baligh, berakal , laki – laki dan yang bersangkutan memiliki pemahaman hukum – hukum yang berkaitan dengan adzan dan iqomah.
  2. Adzan termasuk di antara syiar Islam yang sangat agung. Hendaknya tidak mengumandangkan adzan kecuali orang – orang yang sudah baligh dan memiliki suara bagus dan lantang. Kecuali dalam kondisi terpaksa, ketika tidak ada orang dewasa yang adzan dan dengan pendampingan dari orang-orang yang memiliki pengetahuan waktu shalat, maka tidak mengapa adzan anak kecil yang belum baligh dengan syarat anak tersebut  sudah sampai umur mumazziy.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here