Banyak para pencari ilmu yang kurang memperhatikan adab adabnya. banyak pelajar yang bersungguh-sungguh dalam belajar, namun tidak mendapatkan buahnya ilmu. Apakah buah ilmu itu? buah ilmu adalah “mengamalkan ilmu” dan “menyebarluaskan ilmu”. Hal tersebut terjadi karena para pelajar itu salah cara dalam menuntut ilmu dan mereka juga meninggalkan syarat-syarat dalam belajar.

Akhirnya hilanglah keberkahan dari ilmu. Sulitnya ilmu masuk kedalam hati para pencari ilmu. Ilmu hanya sebagai konsumsi otak dan berbangga bangga dengannya. Gurupun bukan lagi orang tua yang dihormati dan didengarkan petuahnya. Tetapi hanya sebagai teman dalam belajar.

Ibnu Mubarok berkata, “Barangsiapa yang meremehkan adab-adab, maka ia akan dihukum dengan terhalang dari sunnah-sunnah. Barangsiapa yang meremehkan sunnah-sunnah, maka ia akan dihukum dengan terhalang dari  fardhu-fardhu.  Dan barangsiapa yang meremehkan  fardhu-fardhu, maka  ia akan dihukum dengan terhalang dari ma’rifat (mengenal Allah)”.

Kini, saatnya kita kembali mendulang adab-adab mencari ilmu yang telah dipanggungkan oleh para ulama sehingga ilmu dapat memberi manfaat, bukan hanya pada tataran duniawi, namun juga pada tataran ukhrawi.

Ikhlas menuntut ilmu

Yaitu mengikhlaskan seluruh niatnya hanya kepada Allah Ta’ala ketika mencari ilmu. Dengannya, akan muncul barakah pada ilmu dan amal seseorang. Disamping itu, ikhlas adalah syarat diterimanya amal.

Sudah seharusnya seorang penuntut ilmu membersihkan niatnya hanya untuk mendapatkan ketenaran dihadapan manusia. Atau untuk mendebat orang-orang yang berbeda pendapat dengannya. Atau dengan niatan agar disebut seorang yang berilmu dan dengan mudah mendapat berbagai kenikmatan dunia. Inilah yang menjadikan ketidak berkahan ilmu. Dan hal inilah yang menjadikan hilangnya kemanfaatan dari ilmu diin ini.

Rasulullah sallallahu alaihi wasallam bersabda :

مَنْ تَعَلَّمَ عِلْمًا مِمَّا يُبْتَغَى بِهِ وَجْهُ اللَّهِ عَزَّ وَجَلَّ لاَ يَتَعَلَّمُهُ إِلاَّ لِيُصِيبَ بِهِ عَرَضًا مِنَ الدُّنْيَا لَمْ يَجِدْ عَرْفَ الْجَنَّةِ يَوْمَ الْقِيَامَةِ

Barangsiapa mencari ilmu yang seharusnya ditujukan untuk mencari ridla Allah, hanya saja dia mempelajarinya semata-mata untuk mendapatkan bagian di dunia maka dia tidak mendapatkan bau syurga di hari kiamat”. [ HR. Ahmad, Abu Daud, Ibnu Majah dan Ibnu Hibban].

Imam Muslim meriwayatkan hadis menceritakan tentang tiga golongan manusia yang mana di dunia mereka dimuliakan oleh ummat. Salah satu diantara tiga golongan tersebut adalah;

orang yang telah menuntut ilmu, mengajarnya dan membaca Al-Quran. Dia dipanggil, lalu diperlihatkan kepadanya nikmat yang telah diberi kepadanya, lalu dia ditanya tentangnya. Dia mengatakan, ‘Sungguh aku telah menuntut ilmu dan mengajarnya untukMu Ya Allah, dan aku telah membaca Al-Quran untukMu Ya Allah.’ Lalu dikatakan kepadanya, ‘Engkau berdusta. Engkau menuntut ilmu supaya engkau dikatakan sebagai alim, dan engkau membaca Al-Quran supaya engkau dikatakan sebagai qari’, dan engkau telah mendapatkan itu dari manusia.’ Maka dia pun diseret dengan wajahnya di tanah dan dicampakkan ke dalam api Neraka.

Subhanallah. Di dunia jutaan manusia mengangkatnya. Di dunia, jutaan manusia memuji dan memujanya, tetapi di Akhirat dia tergolong ahli neraka. Semua karena niat. Karena itulah setiap ibadah yang dilakukan seseorang harus dimulai karena ikhlas mencari ridha Allah ta’ala.

Imam Ibnul Qoyyim berkata;

اَلْعَمَلُ بِغَيْرِ اِخْلاَصٍ وَلاَ اِقْتِدَاءٍ كَالْمُسَافِرِ يَمْلَأُ جَرَابَهُ رَمْلاً يُثْقِلُهُ وَلاَ يَنْفَعُهُ

Ibnu Al-Qayyim rahimahullah di mana beliau berkata, “Sesungguhnya suatu amalan tanpa keikhlasan dan tanpa mencontohi Nabi SAW adalah seperti seorang musafir yang memenuhi kantongnya dengan pasir. Memberatkannya tetapi tidak bermanfaat baginya.” Al Fawaid 1:49.

Sedang tanda tanda keikhlasan adalah bermanfaatnya ilmu bagi dirinya dan orang lain. Semakin bertambah baik akhlaknya, ibadahnya dan juga aqidahnya. Dan kebaikan itu juga ditularkan pada orang lain sehingga keshalihan akhlak, aqidah dan ibadahpun juga mempengaruhi orang lain pula.

Orang yang ikhlas sadar bahwa ilmu yang dicari adalah untuk diamalkan. Ilmu dicari sebagai bekal untuk memperbaiki ibadahnya kepada Allah, tidak terhenti pada penambahan ilmu semata-mata.

Seorang yang ikhlas dalam menuntut ilmu juga akan menjadi bertambah takut kepada Allah, bertambah ketakwaan dalam dirinya sehingga ringan melaksanakan segala tuntutan agama dalam kehidupan sehari hari serta menjauhi perkara-perkara yang dilarang. Hal ini sebagaimana firman Allah, “Sesungguhnya yang takut kepada Allah di antara hambaNya hanyalah orang yang berilmu” (Surah Fathir: 28).

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here