Oleh : Abu Nahlin Assajuri

Dari Ibnu Umar Radhiyallahu ‘anhu ia berkata,”Rosulullah Shollallahu ‘alai wa sallam bersabda :

 مَنْ تَعَاظَمَ فِي نَفْسِهِ، وَاخْتَالَ فِي مِشْيَتِهِ، لَقِيَ اَللَّهَ وَهُوَ عَلَيْهِ غَضْبَانُ

“Barangsiapa yang sombong dan berjalan dengan sikap angkuh, maka ia akan berjumpa dengan Allah dalam kondisi Ia marah kepadanya” (HR. Al Hakim)

Dari hadits di atas memberikan satu motifasi untuk selalu menjauhi kesombongan dan sikap angkuh. Karena ia akan mendatangkan kemarahan Allah. Hadits di atas menunjukkan bahwa Allah mencela rasa dan sikap sombong. Baik kesombongan itu ia tampakkan dalam gaya berjalan, gaya berbicara, raut muka dan pandangan, pakaian, maupun yang lainnya.

Siapalah kita…sehingga berani menyombongkan diri di atas muka bumi Allah. Apalah kehebatan kita… sehingga berani menyombongkan diri di atas muka bumi Allah. Tidak ada apa apanya. Bahkan diri kita ini adalah milik-Nya.

Sombong dan sikap angkuh adalah satu penyakit berbahaya yang banyak menjangkiti manusia. Banyak manusia yang ketika Allah karuniakan sedikit saja keutamaan dan kelebihan lalu ia menyombongkan diri. Lupa bahwa karunia dan kelebihan itu adalah takdir dan karunia Allah. Ia merasa bahwa karunia dan kelebihan itu adalah mutlak usahanya. Na’udzubillah.

Semoga Allah senantiasa menjaga diri kita dari kesombongan. Karena kesombongan itu akan menjadi penghalang hidayah Allah. Kesombongan akan menjadikan Allah dan makhluk-Nya benci dan marah kepada kita. Kesombongan akan menjadikan kita susah dan sulit untuk menerima masukan baik dari orang lain. Dan yang lebih ngeri dari itu semua adalah kesombongan akan menjadi penghalang kita masuk jannah.

Hal yang harus kita kuatkan agar diri kita tidak sombong dan bersikap angkuh adalah keimanan kita kepada takdir Allah. Jangan sampai lupa bahwa setiap karunia dan kelebihan yang ada pada diri kita sekecil apapun itu adalah takdir dan karunia Allah. Bukan hanya karena usaha kita. Jika Allah tidak menakdirkan atau mengaruniakannya kepada kita, kelebihan itu tidak akan ada pada diri kita. Meskipun kita berusaha semacam apapun. Janganlah seperti Qorun yang merasa bahwa semua harta benda, kekayaan ia dapatkan dengan usahanya. Tapi jadilah seperti Nabi Sulaiman ‘alaihis salam yang menisbatkan semua kekayaan, kelebihan yang ada pada dirinya kepada Allah. Dengan rendah hati dan tawadhu’nya beliau mengatkan Haadzaa min fadhli Robbi liyabluwanii a-asykuru am akfur (ini semua adalah karunia Robbku untuk mengujiku, apakah saya bersyukur ataukah saya kufur). Wallahu a’lam. Allahumaj’alna mimman yamsyuuna ‘alal ardhi haunan.

 

 

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here