Dengki adalah senang jika saudaranya dalam keadaan susah dan susah jika saudaranya senang. Tak hanya itu, ia berusaha agar kenikmatan yang dirasakan saudaranya hilang dan berpindah padanya. Ingatlah bahwa dosa yang pertama kali diperbuat oleh anak adam adalah dengki. Yaitu kedengkian Qobil pada Habil hingga akhirnya terjadilah pembunuhan pertama kali.

Ada kisah yang menarik pada zaman Rasulullah sallallahu ‘alaihi wasallam. Seseorang yang memiliki hati bersih jauh dari rasa dengki hingga Allah jamin baginya jannah.

Kisah ini disebutkan dalam tafsir Ibnu katsir ketika menafsirkan surat al hasyr ayat 9. Imam Ahmad meriwayatkan dari anas radhiyallahu anhu ia berkata : Suatu hari kami duduk bersama Rasulullah sallallahu alaihi wasallam. Tiba-tiba beliau bersabda, “Sebentar lagi akan datang seorang laki-laki penghuni surga.”

Tidak lama kemudian, muncul seorang laki-laki dari kaum Anshar yang jenggotnya basah oleh air wudu dengan tangan kiri menenteng sandal. Ketika besok hari tiba, Rasulullah sallallahu alaihi wasallam bersabda kembali, “Sebentar lagi akan datang seorang laki-laki penghuni surga.” Tidak lama kemudian, muncul laki-laki kemarin persis dalam kondisi sebelumnya, jenggotnya basah oleh air wudu dengan tangan kiri menenteng sandal.

Pada hari ketiga, Rasulullah sallallahu alaihi wasallam bersabda seperti hari sebelumnya dan yang muncul adalah laki-laki itu.

Begitu Rasulullah sallallahu alaihi wasallam bangun dari tempat duduknya, Abdullah bin Umar (atau sering disebut dengan Ibnu Umar) kemudian membuntuti laki-laki tersebut. Ketika sampai di rumahnya, Ibnu Umar berkata, “Aku sekarang sedang berselisih dengan ayahku dan aku bersumpah tidak akan menemuinya selama tiga hari. Bagaimana seandainya aku menumpang di rumahmu selama tiga hari?”

 

Laki-laki itu menjawab, “Ya, silakan.” Ibnu Umar menuturkan: Aku menginap di rumah lelaki itu selama tiga hari. Tetapi aku tidak pernah melihat laki-laki itu bangun malam untuk shalat. Hanya saja, setiap kali bangun tidur, ia selalu menyebut nama Allah dan bertakbir sampai waktu subuh tiba. Aku juga tidak pernah mendengar perkataannya kecuali perkataan yang baik.

Ketika waktu tiga hari sudah habis dan hampir saja aku meremehkan perbuatannya, aku bertanya kepadanya, “Wahai hamba Allah, sebenarnya aku tidak sedang berselisih dengan ayahku, juga tidak karena aku minggat dari rumah. Aku mendengar Rasulullah sallallahu alaihi wasallam bersabda tiga kali, “Sebentar lagi akan datang seorang laki-laki penghuni surga” dan yang muncul adalah kau.

Karena itu aku penasaran dan berniat untuk menginap bersamamu dengan maksud hendak melihat amal apa yang kauperbuat sehingga aku dapat mengikutinya. Akan tetapi, aku tidak pernah melihatmu melakukan hal istimewa. Kira-kira apa yang kau lakukan sehingga Rasulullah sallallahu alaihi wasallam berkata seperti itu?”

Laki-laki itu menjawab, “Tidak ada perbuatan yang istimewa dari aku selain apa yang telah Tuan perhatikan dan saksikan sendiri. Itulah perbuatan sehari-hariku.”

Ketika Ibnu Umar hendak meninggalkannya, laki-laki itu memanggilnya sambil berkata: “Perbuatanku adalah apa yang Tuan saksikan. Hanya saja aku tidak pernah menipu, khianat kepada seorang pun dari kaum muslim, juga aku tidak pernah iri hati, dengki kepada orang lain atas nikmat dan karunia yang telah Allah berikan kepadanya.” Abdullah bin Umar berkata: “Inilah yang menyebabkanmu menjadi penghuni surga.” (HR Ahmad 3/166, Al Baghowi  syarhus sunnah syarh hadis no. 3535).

Begitulah seorang sahabat dari kalangan anshar. Ia tidak memiliki kelebihan dari sisi ibadahnya. Tetapi ia memiliki kelebihan yang sedikit orang lain memilikinya. Yaitu jauhnya dari rasa iri, dengki dan sangkaan yang jelek kepada saudaranya. Yang menjadi evaluasi kita hari ini adalah, sudahkah kita berusaha untuk membuang kedengkian kepada suadara-saudara kita ?. Atau malah mengumbar kedengkian kepada saudara-saudara kita ?. Mulai sekarang kita berusaha untuk membenahi hati agar rasa dengki ini hilang dari kita. Dan semoga dengan hal tersebut menjadi salah satu penyebab dimasukkannya kita kedalam jannah-Nya. Amin. ( Nur kholis ).

 

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here