Islam sangat memperhatikan masalah kesehatan. Larangan minum dengan sekali teguk, tidak meniup niup makanan ketika panas, tidak boleh makan kekenyangan, dan aturan yang lainnya. Semuanya dalam rangka menjaga badan seorang muslim tetap sehat dan tidak mudah terserang penyakit.

Tubuh manusia merupakan amanah dari Allah Ta’ala. Tidak diperbolehkan seseorang untuk mendhalimi diri sendiri dengan hal hal yang menyebabkan lemahnya tubuh. Mata memiliki hak untuk tidur, tubuh memiliki hak untuk istirahat dari beraktifitas dan juga mendapatkan nutrisi yang baik. Sehingga islam memerintahkan kepada ummatnya untuk memakan hal yang halal dan baik untuk badan.

Islampun juga memerintahkan ummatnya untuk berobat jika terserang penyakit. Entah dengan obat tumbuh tumbuhan atau obat ruqyah syar’iyah. Karena tidaklah seseorang terkena penyakit, kecuali akan pasti ada obatnya. Rasulullah sallallahu ‘alaihi wasallam bersabda ;

مَا أَنْزَلَ اللهُ مِنْ دَاءٍ إِلاَّ أَنْزَلَ لَهُ شِفَاءً، عَلِمَهُ مَنْ عَلِمَهُ وَجَهِلَهُ مَنْ جَهِلَهُ

Tidaklah Allah menurunkan satu penyakit pun melainkan Allah turunkan pula obat baginya. Telah mengetahui orang-orang yang tahu, dan orang yang tidak tahu tidak akan mengetahuinya.” (HR. Al-Bukhari. Diriwayatkan juga oleh Al-Imam Muslim dari Jabir radhiyallahu ‘anhu).

Islampun juga memerintahkan untuk mencegah sebelum penyakit itu datang. Yaitu dengan mengatur hidup dan makan dengan pola kehidupan Rasulullah sallallahu ‘alaihi wasallam. Maka penting bagi orang tua untuk mengetahui apa saja yang harus diperhatikan dalam mendidik anak anaknya agar mereka tumbuh sehat dan terjauh dari penyakit. Diantara kebiasaan tersebut adalah ;

Pertama; membiasakan anak bersiwak atau menggosok gigi. Bersiwak dengan kayu siwak merupakan hal yang sangat diperhatikan oleh nabi Muhammad sallallahu ‘alaihi wasallam. Karena banyaknya manfaat yang akan didapat, sampai sampai beliau sangat menekankan untuk bersiwak pada saat hendak melaksanakan shalat. Baliau bersabda ;

لَوْلَا أَنْ أَشُقَّ عَلَى أُمَّتِي أَوْ عَلَى النَّاسِ لَأَمَرْتُهُمْ بِالسِّوَاكِ مَعَ كُلِّ صَلَاةٍ

Seandainya tidak memberatkan atas ummatku atau atas manusia, sungguh akan aku perintahkan mereka untuk bersiwak pada setiap hendak melakukan shalat. HR. Muttafaq ‘alaihi.

Membersihkan secara rutin dengan kayu siwak akan menjadikan gigi senantiasa bersih. Menghilangkan kotoran kotoran yang melekat pada gigi. Dan secara tidak disadari, siwak dapat menguatkan gigi dan gusi sehingga lebih kuat dan tidak mudah keropos. Hal ini telah banyak terbukti oleh penelitian penelitian para ahli akan fungsi siwak yang terdapapt pada kayunya.

Kayu siwak hari ini cukup banyak dijual di toko toko herbal dan yang lainnya. Bahkan hari ini ada beberapa pasta gigi yang mengandung didilamnya kayu siwak. Sehingga bagi ummat islam sangat mudah untuk mkendapatkannya.

Tetapi jika ternyata kayu siwak tersebut tidak didapatkan, seorang muslim dapat melatih anak anak mereka dengan memakai pasta gigi pada umumnya. Tentunya tetap harus diperhatikan untuk menghindari pasta gigi yang mengandung bahan bahan berbahaya.

Pada prinsipnya, melatih anak untuk menjaga kebersihan gigi adalah penting. Maka membiasakan mereka untuk rutin gosok gigi juga menjadi agenda penting agar gigi dan tubuh terjauh dari berbagai penyakit.

Kedua; selalu memotong kuku. Diantara penjagaan terhadap fitrah adalah selalu memotong kuku. Tidak membiarkannya panjang sehingga menjadikan seseorang sulit untuk beraktifitas. Anak yang senantiasa memotong kukunya jika sudah mulai memanjang akan terhindar dari berbagai penyakit yang disebabkan oleh kuku. Tanganlah yang pertama kali memasukkan bibit bibit penyakit lewat makanan yang dimakan jika kuku dibiarkan panjang.

Makanya islam telah memasukkan aktifitas memotong kuku bagian dari menjaga kesucian. Dalam hadist disebutkan;

الْفِطْرَةُ خَمْسٌ الْخِتَانُ وَالِاسْتِحْدَادُ وَقَصُّ الشَّارِبِ وَتَقْلِيمُ الْأَظْفَارِ وَنَتْفُ الْآبَاطِ

Ada lima macam fitrah , yaitu : khitan, mencukur bulu kemaluan, memotong kumis, memotong kuku, dan mencabut bulu ketiak.” (HR. Bukhari no. 5891 dan Muslim no. 258)

Hukum memanjangakan kuku secara umum adalah makruh. Dan jika sudah melampoui empat puluh hari, larangannya tambah keras dan ada sebagian yang menghukumi haram. Hal ini sebagaimana perkataan Anas bin Malik radhiyallahu ‘anhu,

وُقِّتَ لَنَا فِى قَصِّ الشَّارِبِ وَتَقْلِيمِ الأَظْفَارِ وَنَتْفِ الإِبْطِ وَحَلْقِ الْعَانَةِ أَنْ لاَ نَتْرُكَ أَكْثَرَ مِنْ أَرْبَعِينَ لَيْلَةً

Kami diberi batasan dalam memendekkan kumis, memotong kuku, mencabut bulu ketika, mencukur bulu kemaluan, yaitu itu semua tidak dibiarkan lebih dari 40 malam.” (HR. Muslim no. 258). Yang dimaksud hadits ini adalah jangan sampai kuku dan rambut-rambut atau bulu-bulu yang disebut dalam hadits dibiarkan panjang lebih dari 40 hari (Lihat Syarh Shahih Muslim, 3: 133).

Imam Nawawi rahimahullah berkata, “Adapun batasan waktu memotong kuku, maka dilihat dari panjangnya kuku tersebut. Ketika telah panjang, maka dipotong. Ini berbeda satu orang dan lainnya, juga dilihat dari kondisi. Hal ini jugalah yang jadi standar dalam menipiskan kumis, mencabut bulu ketiak dan mencabut bulu kemaluan.” (Al Majmu’, 1: 158).

Ketiga; mengikuti prilaku nabi saat makan dan minum. Islam telah mengajarkan agar tidak rakus terhadap makanan dan minuman. Mengambil apa yang terdekat dahulu sebelum yang jauh. Membaca basmalah ketika hendak makan. Hal ini sebagaimana sabda Rasulullah sallallahu ‘alaihi wasallam kepada Ibnu Abbas ;

يَا غُلَامُ سَمِّ اللَّهَ وَكُلْ بِيَمِينِكَ وَكُلْ مِمَّا يَلِيكَ

“Wahai anakku, sebutlah nama Allah, makanlah dengan tangan kananmu, dan makanlah makanan yang berada di dekatmu.” (HR Bukhari no. 5376 dan Muslim 2022).

Islam juga melarang untuk mengisi seluruh perut dengan makanan. Hingga sulit baginya untuk bernafas. Hal ini sebagaimana sabda Rasulullah sallallahu ‘alaihi wasallam;

“مَا مَلأَ آدَمِيٌّ وِعَاءً شَرًّا مِنْ بَطْنِهِ حَسْبُ ابْنِ آدَمَ لُقَيْمَاتٌ يُقِمْنَ صُلْبَهُ فَإِنْ لَمْ يَفْعَلْ فَثُلُثٌ لِطَعَامِهِ وَثُلُثٌ لِشَرَابِهِ وَثُلُثٌ لِنَفَسِهِ.”

“Tidak ada bejana yang diisi oleh manusia yang lebih buruk dari perutnya, cukuplah baginya memakan beberapa suapan sekedar dapat menegakkan tulang punggungnya (memberikan tenaga), maka jika tidak mau, maka ia dapat memenuhi perutnya dengan sepertiga makanan, sepertiga minuman dan sepertiga lagi untuk nafasnya.”[ Diriwayatkan oleh Ahmad (IV/132), Ibnu Majah (no. 3349), al-Hakim (IV/ 121). Lihat Irwaa-ul Ghaliil (no. 1983), karya Syaikh al-Albani rahimahullah].

Dalam hal minumpun Rasulullah sallallahu ‘alaihi wasallam juga telah mengajarkan. Dimana beliau minum dengan tiga kali menarik nafas. Tidak minum sekaligus habis, tetapi minum, lalu menarik nafas, lalu minum lagi hingga tiga kali. Dan cara minum seperti ini akan lebih puas serta terjamin kebersihan dan kesehatannya.

Anak anakpun hendaknya dilarang untuk minum sambil bernafas di dalam gelas. Atau meniup ke dalam gelas yang panas. Demikian pula anak juga diperingatkan untuk tidak minum sambil berdiri. Karena hal tersebut dilarang oleh islam. dalam sebuah hadist disebutkan ;

Dari Anas bin Malik radhiyallahu ‘anhu, ia berkata,

أَنَّ النَّبِىَّ -صلى الله عليه وسلم- زَجَرَ عَنِ الشُّرْبِ قَائِمًا

Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam sungguh melarang dari minum sambil berdiri.” (HR. Muslim no. 2024).

Keempat; mengajarkan kepada anak cara tidur Rasulullah sallallahu ‘alaihi wasallam. Bahwa beliau sallallahu ‘alaihi wasallam tidur miring ke sebelah kanan. Karena hal tersebut berkhasiat menyehatkan badan. Dan posisi ini lah posisi yang paling baik saat tidur. Sabda Rasulullah kepada Al-Barra’ bin Azib: “Jika engkau akan pergi ke tempat tidurmu, hendaklah engkau berwudhu seperti wudhu untuk sholat, kemudian tidurlah di atas lambung kananmu.” (Muttafaq Alaih).

“Rasulullah saw apabila tidur meletakkan tangan kanannya di bawah pipi kanannya.” (HR. Abu Dawud, Tirmidzi, Ibnu Majah)

Dari Al Barra’ bin Azib ra berkata, “Apabila Rasulullah saw berada pada tempat tidurnya dan akan tidur maka beliau miring ke sebelah kanan, kemudian membaca:

اللَّهُمَّ أَسْلَمْتُ وَجْهِى إِلَيْكَ ، وَفَوَّضْتُ أَمْرِى إِلَيْكَ ، وَأَلْجَأْتُ ظَهْرِى إِلَيْكَ ، رَغْبَةً وَرَهْبَةً إِلَيْكَ ، لاَ مَلْجَأَ وَلاَ مَنْجَا مِنْكَ إِلاَّ إِلَيْكَ ، اللَّهُمَّ آمَنْتُ بِكِتَابِكَ الَّذِى أَنْزَلْتَ ، وَبِنَبِيِّكَ الَّذِى أَرْسَلْتَ

Wahai Allah, saya menyerahkan diriku kepada-Mu, menghadapkan mukaku kepada-Mu, menyerahkan semua urusanku kepada-Mu, dan menyandarkan punggungku kepada-Mu dengan penuh harapan dan takut kepada-Mu, tidak ada tempat berlindung dan menyelamatkan diri dari siksaan-Mu kecuali hanya kepada-Mu. Saya beriman dengan kitab yang Engkau turunkan dari nabi yang Engkau utus.” (HR. Bukhari).

Itulah beberapa hal yang perlu diperhatikan yang perlu dibiasakan pada anak. Masih banyak hal hal yang belum tertulis karena keterbatasan lembaran lembaran ini. yang jelas, pembiasaan pembiasaan ini jika dilakukan anak, in SyaAllah anak akan terbiasa hidup sehat dan tidak mudah terserang penyakit. Semoga Allah Ta’ala melahirkan pada generasi ini generasi sehat dan kuat untuk kemajuan dan kejayaan ummat.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here