Setiap orang pasti mengharapkan dan mendambakan kasih sayang. Jika ia seorang anak, pasti mengharap kasih sayang dari kedua orang tuanya. Jika seorang istri mengharap kasih sayang dari suami dan seterusnya. Dan kasih sayang yang paling diharapkan oleh seorang hamba adalah kasih sayang dari Allah Ta’ala yang Maha dari segala Maha, termasuk diantaranya adalah Maha kasih dan sayang.

Tetapi banyak di antara manusia yang tidak berbanding lurus antara harapan dan usaha. Mengharap kasih sayang dari Allah Ta’ala tetapi tidak mau mengasihi yang di bumi. Mengharap agar Allah selalu mengabulkan apa saja yang diminta, hidup di dunia selalunya bahagia dan mati masuk surga, tetapi tidak mau berbagi pada yang miskin dan papa. Tidak menyantuni anak-anak yatim. Tidak menyayangi mereka yang muda. Maka orang yang seperti ini janganlah mengharap akan mendapat kasih sayang dari Allah Ta’ala. Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda:

عَنْ جَرِيرِ بْنِ عَبْدِ اللَّهِ قَالَ قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ مَنْ لَا يَرْحَمْ النَّاسَ لَا يَرْحَمْهُ اللَّهُ عَزَّ وَجَلَّ 

Jarir bin ‘Abdillah berkata bahwa Rasulullah ٍShallallaahu ’alaihi wasallam pernah bersabda, “Orang yang tidak menyayangi manusia tidak akan disayangi Allah ‘Azza wa Jalla.”
(HR. Muslim no. 2319
Teks hadits tersebut menunjukan bahwa orang yang tidak memiliki sifat penyayang terhadap manusia tidak akan mendapatkan kasih sayang dari Allah ‘Azza wa Jalla. Sedangkan konteks hadits tersebut menunjukan bahwa orang yang menyayangi sesama manusia akan disayangi oleh Allah.
Hadits di muka semakna dengan sabda Nabi,
الرَّاحِمُونَ يَرْحَمُهُمْ الرَّحْمَنُ ارْحَمُوا مَنْ فِي الْأَرْضِ يَرْحَمْكُمْ مَنْ فِي السَّمَاءِ 
“Orang–orang yang penyayang itu akan disayang oleh dzat yang Maha Penyayang. Hendaklah kalian sayangi orang yang berada di bumi, maka kalian akan disayangi oleh Dzat yang di atas langit.”  
(HR. Tirmidzi no. 1924, Abu Dawud no. 4290, dan Musnad Ahmad no. 6458)
Kasih sayang terhadap makhluk adalah sebab terbesar untuk mendapatkan rahmat kasih sayang Allah Ta’ala. Dengan kasih sayang Allah itulah seseorang akan mendapatkan kebaikan di dunia dan akhirat. Jauhnya seseorang dari sifat penyayang terhadap makhluk adalah sebab terbesar terhalangnya dari curahan kasih sayang Allah Ta’ala. Sementara setiap hamba sangat butuh kasih sayang Allah, tidak bisa lepas walaupun hanya sekejap mata. Teraihnya kenikmatan dan jauhnya bahaya dan bencana adalah dari kasih sayang Allah ‘Azza wa Jalla. Karena itu apabila seseorang ingin langgeng dan bertambahnya kasih sayang Allah, hendaknya mencari sebab-sebab untuk mendapatkan kasih sayang Allah. Sebab-sebab itu terkumpul dalam firman Allah Ta’ala,  
إِنَّ رَحْمَتَ اللهِ قَرِيبٌ مِّنَ الْمُحْسِنِينَ
“Sesungguhnya kasih sayang Allah itu dekat dengan orang–orang yang berbuat baik.” (QS. Al-A’raf : 56)
Mereka yang disebut dalam ayat ini adalah orang-orang yang berbuat baik dalam beribadah kepada Allah dan berbuat baik kepada hamba–hamba-Nya. Berbuat baik kepada sesama makhluk adalah pancaran sifat penyanyang seorang hamba terhadap hamba yang lain.
Bentuk Bentuk Kasih Sayang
Berbagai amalan yang termasuk dalam kasih sayang sangat banyak sekali. Amalan-amalan tersebut akan menjadi bukti bahwa rasa kasih dan sayang itu masih terdapat dalam hati manusia. Dan jika ia sudah tidak lagi empati, berarti menunjukkan akan hilangnya rasa kasih dan sayang di dalam diri seseorang. Di antara amalan-amalan tersebut adalah ;
Pertama; menyantuni anak-anak yatim dan orang-orang fakir miskin. Anak yatim adalah anak yang ditinggal mati bapaknya atau kedua orang tuanya sementara anak-anak tersebut belum baligh. Sementara orang miskin adalah mereka yang memiliki pekerjaan tetapi hasil dari pekerjaannya tidak dapat menutupi kebutuhan rumah tangga. Sehingga mereka harus gali lobang tutup lobang. Cari pinjaman sana-sini dan membayarnya. Merekalah orang-orang yang paling berhak akan shadaqah dan juga uang zakat.
Jika ada yang merasakan kerasnya hati, maka dekatlah dengan anak-anak yatim dan orang-orang miskin. Usaplah anak-anak yatim tersebut, santuni mereka dan bahagiakan mereka. Insya Allah akan dirasakan lembutnya hati, mudah menangis karena Allah, mudah tersentuh dengan ayat-ayat Allah dan mudah untuk mendapatkan hidayah. Dengan semua itulah Allah akan turunkan kasih sayangnya kepada hamba tersebut.
Dalam hadist disebutkan
ﻋَﻦْ ﺃَﺑِﻲْ ﻫُﺮَﻳْﺮَﺓَ ﺃَﻥَّ ﺭَﺟُﻠًﺎ ﺷَﻜَﺎ ﺇِﻟَﻰ ﺭَﺳُﻮْﻝِ ﺍﻟﻠَّﻪِ ﺻَﻠَّﻰ ﺍﻟﻠَّﻪُ ﻋَﻠَﻴْﻪِ ﻭَﺳَﻠَّﻢَ ﻗَﺴْﻮَﺓَ ﻗَﻠْﺒِﻪِ، ﻓَﻘَﺎﻝَ ﻟَﻪُ: ﺇِﻥْ ﺃَﺭَﺩْﺕَ ﺗَﻠْﻴِﻴْﻦَ ﻗَﻠْﺒِﻚَ ﻓَﺄَﻃْﻌِﻢِ ﺍﻟْﻤِﺴْﻜِﻴْﻦَ ﻭَﺍﻣْﺴَﺢْ ﺭَﺃْﺱَ ﺍﻟْﻴَﺘِﻴْﻢِ
Dari Abu Hurairah Radhiyallahu ‘anhu, bahwasanya ada seseorang yang mengeluhkan kerasnya hati kepada Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam, lalu beliau berkata kepadanya: “Jika engkau ingin melembutkan hatimu, maka berilah makan kepada orang miskin dan usaplah kepala anak
yatim.” [HR. Ahmad,  ash-Shahihah Syaikh Al-Albani].
Demikian pula Allah mencela mereka yang menghardik anak-anak yatim dan tidak mau memberi makan orang-orang miskin dengan sebutan “pendusta agama”. Allah Ta’ala berfirman dalam Al-Qur’an ;
أَرَأَيْتَ الَّذِي يُكَذِّبُ بِالدِّينِ فَذَلِكَ الَّذِي يَدُعُّ الْيَتِيمَ فَذَلِكَ الَّذِي يَدُعُّ الْيَتِيمَ
“Tidakkah engkau melihat orang yang mendustakan (hari) pembalasan?. Itu adalah (orang) yang menghardik (mendorong dengan keras) anak Yatim. Dan dia tidak menganjurkan (orang lain) untuk memberi makan kepada kaum miskin.” (QS. Al-Ma’un: 1 -3).
Syaikh Abdurrahman As-Sa’di Rahimahullah menjelaskan bahwa sikap ‘mendorong dengan kasar’ anak yatim tersebut adalah karena kerasnya hati. Sungguh benar yang beliau nyatakan. Karena kedua sifat yang disebut dalam surat ini, yaitu menghardik anak yatim dan tidak menganjurkan orang untuk memberi makan orang miskin adalah penyebab kerasnya hati. Sebaliknya, bersikap baik kepada anak yatim dan memberi makan orang miskin adalah anjuran Nabi Shollallahu alaihi wasallam bagi yang ingin melunakkan hatinya.
“dan dia tidak menganjurkan (orang lain) untuk memberi makan kepada kaum miskin”. Sikap buruk orang yang disebut dalam surat ini tidak sekedar menghardik anak yatim, namun juga tidak mau menganjurkan orang lain untuk memberi makan orang miskin. Jika sekedar menganjurkan orang lain saja ia tidak mau, terlebih lagi dia sendiri tidak akan mau untuk memberi makan kepada orang miskin (Tafsir As-Sa’di).
Kedua; mendo’akan rahmat dan keberkahan bagi saudaranya. Do’a rahmat dan keberkahan ini telah masuk dalam ucapan salam. Dan ucapan Assalaamu ‘alaikum warahmatullahi wabarakaatuh” artinya adalah “semoga keselamatan atas kalian, dan rahmat Allah dan keberkahan-Nya”. Jadi ucapan salam itu lebih baik dari ucapan “selamat pagi” “selamat siang” “halloo” dan yang lainnya. Dan jika seseorang mendapatkan ucapan salam, maka ia harus menjawabnya. Dalam Al-Qur’an Allah Ta’ala berfirman ;
وَإِذَا حُيِّيْتُم بِتَحِيَّةٍ فَحَيُّواْ بِأَحْسَنَ مِنْهَا أَوْ رُدُّوهَا إِنَّ اللّهَ كَانَ عَلَى كُلِّ شَيْءٍ حَسِيباً
“Dan apabila kamu dihormati dengan suatu (salam) penghormatan, maka balaslah penghormatan itu dengan yang lebih baik, atau balaslah (penghormatan itu, yang sepadan) dengannya. Sungguh, Allah memperhitungkan segala sesuatu.” (QS. An-Nisa’ : 86).
Bahkan tanda dekatnya hari kiamat adalah salam diucapkan hanya terhadap mereka yang dikenalnya saja. Satu jama’ah pengajian saja, atau yang mereka anggap sefikroh saja. Bagi mereka yang beda tempat kajian, beda dalam hal ibadah meski sebenarnya sama-sama berlandaskan dalil tidak akan mereka ucapkan salam kepada mereka. Seakan-akan salam itu hanya untuk kelompok mereka saja dan haram bagi kelompok yang lain. Ini semua adalah tanda di antara tanda dekatnya kiamat.
Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda ;
مِنْ أَشْرَاط السَّاعَة أَنْ يَمُرّ الرَّجُل بِالْمَسْجِدِ لَا يُصَلِّي فِيهِ ، وَأَنْ لَا يُسَلِّم إِلَّا عَلَى مَنْ يَعْرِفهُ
“Di antara tanda-tanda (dekatnya) hari kiamat adalah seseorang melewati masjid yang tidak pernah dia shalat di sana, lalu dia hanya mengucapkan salam kepada orang yang dia kenali saja.” (Lihat Fathul Bari, 11: 25).
Dan masih banyak lagi amalan-amalan yang mendatangkan rahmat Allah Ta’ala. Seperti menjauhi buruk sangka kepada saudaranya, mudah memaafkan, berkata yang baik, menutup aib saudaranya, menjenguk saudaranya jika sakit, mengantar jenazahnya, dan lain lain. Dan setiap kebaikan hamba kepada sesama atau makluk lain akan mengundang datangnya rahmat Allah Ta’ala. Semoga Allah Ta’ala selalu mencurahkan kasih sayangnya pada kita di dunia, dan mencurahkan pula di akhirat dengan jannah-Nya. Aamiin.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here