Tahukah… salah satu sumber kebahagiaan itu adalah menerima takdir yang digariskan oleh Allah dengan ikhlas. Sekaligus menikmatinya dengan lapang dada. Kesempitan dan rasa gelisah bisa saja mencul karena seseorang tidak terima dengan apa yang terjadi pada dirinya. Bahkan penderitaan di atas penderitaan jika seseorang ditimpa takdir yang tidak menyenangkan dan ia tidak bersabar dengannya dan berburuk sangka kepada Allah Ta’ala.

Supaya bisa menikmati takdir, seseorang harus melihat orang-orang yang kurang beruntung dibanding dirinya. Jika ia diuji dengan sakit, maka lihatlah orang yang sakitnya lebih parah. Jika ia diuji dengan kefakiran, maka lihatlah orang yang lebih fakir. Mereka yang tidak memliki rumah sehingga tidur di kolong jembatan dan diemperan toko. Melihat kebawah dalam hal dunia akan menjadikan seseorang mudah bersyukur.

Dari Abu Hurairah, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

إِذَا نَظَرَ أَحَدُكُمْ إِلَى مَنْ فَضَّلَ عَلَيْهِ فِي الْمَالِ وَالْخَلْقِ فَلْيَنْظُرْ إِلَى مَنْ هُوَ أَسْفَلَ مِنْهُ

Jika salah seorang di antara kalian melihat orang yang memiliki kelebihan harta dan bentuk (rupa) [al kholq], maka lihatlah kepada orang yang berada di bawahnya.” (HR. Bukhari dan Muslim)

Ibnu Hajar mengatakan, “Yang dimaksud dengan al khalq adalah bentuk tubuh. Juga termasuk di dalamnya adalah anak-anak, pengikut dan segala sesuatu yang berkaitan dengan kenikmatan duniawi.” (Fathul Bari, 11/32)

Dan janganlah seseorang langsung menganggap orang lain beruntung, padahal bisa jadi orang lain yang dianggap beruntung tidak merasa bahagia sama sekali. Jangan pernah iri dengan kehidupan orang lain, bisa jadi orang yang kita iri kepadanya, dia pun iri dengan kehidupan kita. Siapa yang tahu.

Kita bisa mengambil pelajaran dari kehidupan sekitar kita.

Ada yang takdirnya usia 21 tahun sudah menikah, tapi harus menunggu 11 tahun untuk mendapatkan anak. Sementara yang lain harus bersabar menahan gunjingan karena lama mendapatkan jodoh. Kemudian baru menikah di usia kepala tiga, tapi Allah langsung memberinya momongan dan tidak perlu menunggu bertahun-tahun.

Ada yang kaya raya dan sukses di usia muda, tapi meninggal di usia kepala empat, sementara yang lain harus bercucuran keringat dan air mata hingga usia 40 tahun, tapi manfaatnya terasa bagi dirinya dan bagi orang-orang sekitar hingga menjelang usia 80 tahun.

Maka dari itu, nikmatilah takdir kita.

Tidak perlu galau dengan pencapaian orang lain. Takdir kita dengan mereka tidaklah sama.

Ada yang takdirnya berjuang hidup dari sakit yang dideritanya. Sehingga hidupnya tidak lepas dari dokter, rumah sakit dan jarum suntik. Namun ia tak pernah lepas dari dzikir sepanjang hidupnya karena selalu dibayang-bayangi kematian. Sementara kawannya yang sehat wal afiyat sibuk hura-hura dengan kehidupannya, tanpa terbebani rasa sakit  justru dijemput malaikat maut terlebih dahulu.

Maka dari itu, nikmatilah hidup kita.

Ada sebagian orang yang beruntung menikmati takdirnya dengan ikhlas, menikmati setiap perjuangan, mengubur jauh-jauh iri dan dengki dan meluaskan kesabaran tanpa batas. Dan tak lupa memohon pertolongan kepada Alloh akan kebaikan di akhir kehidupan.

Sementara sebagian lain sibuk membanding-bandingkan takdirnya dengan takdir orang lain. Kadang menggugat Robb yang mengguratkan takdir tersebut, ”Ya Alloh kenapa aku yang harus mengalaminya? Ya Alloh, aku sudah tidak kuat, harus sampai kapan aku menanggungnya?”.

Ingatlah bahwa seluruh kenikmatan dan musibah itu sudah Allah Ta’ala tetapkan. Semua itu agar manusia tidak terlalu bangga dengan kenikmatan, karena dibalik kenikmatan itu ada kesedihan. Dan agar manusia tidak berputus asa dengan musibah yang menimpa, karena yakin bahwa dibalik musibah ada kebahagiaan yang tertunda. Allah Ta’ala berfirman ;

مَا أَصَابَ مِن مُّصِيبَةٍ فِي الْأَرْضِ وَلَا فِي أَنفُسِكُمْ إِلَّا فِي كِتَابٍ مِّن قَبْلِ أَن نَّبْرَأَهَا إِنَّ ذَلِكَ عَلَى اللَّهِ يَسِيرٌ # لِكَيْلَا تَأْسَوْا عَلَى مَا فَاتَكُمْ وَلَا تَفْرَحُوا بِمَا آتَاكُمْ وَاللَّهُ لَا يُحِبُّ كُلَّ مُخْتَالٍ فَخُورٍ

  1. Tiada suatu bencanapun yang menimpa di bumi dan (tidak pula) pada dirimu sendiri melainkan telah tertulis dalam kitab (Lauhul Mahfuzh) sebelum Kami menciptakannya. Sesungguhnya yang demikian itu adalah mudah bagi Allah. 23. (Kami jelaskan yang demikian itu) supaya kamu jangan berduka cita terhadap apa yang luput dari kamu, dan supaya kamu jangan terlalu gembira terhadap apa yang diberikan-Nya kepadamu. Dan Allah tidak menyukai setiap orang yang sombong lagi membanggakan diri. QS. Al Hadid 22-23.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here