Aku pernah membaca tentang kisah mengharukan seorang gadis belia yang tidak bisa tertidur berhari-hari dan enggan menyentuh sesuap nasi lantaran sedih ditinggal sang kekasih. Itulah Bella Swan, wanita melankolis dalam film Twilight, New Moon. Atau kisah anak hilang yang berhari-hari tidak bertemu dengan ibunya dan bingung mencari jalan pulang karena tak tahu dimana keberadaannya saat ini seperti sinetron-sinetron yang biasa terpampang di Televisi. Ya sepertinya ini cukup menggambarkan bagaimana perasaanku saat menginjakkan kaki di suatu tempat asing yang kemudian hari aku sebut sebagai Pondok Pesantren.

So.. jangan heran jika sebagian besar orang menyebutnya dengan “Penjara Suci” untuk sebuah sekolah asrama yang didesain berkamar-kamar hampir mirip dengan sel tahanan ini. Dengan tataran ubin coklat dan tembok abu-abu tanpa cat. Dan jejeran kamar mandi yang tersebar luas serta aroma masakan dan kepulan asap dapur yang sering menggoda. Ditambah dengan antrian panjang dan tempat makan terpusat, dimana dibutuhkan perjuangan untuk mendapatkan sesuap nasi. Benar-benar menjadi moment menarik yang tak terlupakan di lima tahun yang lalu. Masa dimana aku pertama kalinya menginjakkan kaki di Pondok Pesantren.

Teringat lekat memori awal aku datang untuk merubah status menjadi seorang santri. Awal aku turun dari mobil dan disambut oleh dua wanita bercadar yang entah siapa mereka. Membawaku masuk dengan sedikit basa-basi, hingga aku ditempatkan di kamar tujuan. “ini tempat tidur sementaranya kak, silahkan tidur disini dulu.” Kata mereka dan tetiba pergi entah kemana kerana waktu itu aku sampai pukul 01.00 pagi. Dan aku hanya sibuk bergelut dengan fikiranku… “aku akan tinggal di tempat ini? Tidur dengan jumlah orang yang cukup banyak, harus memakai bahasa arab atau inggris setiap hari, bla.bla.bla..” Hingga anganku membawaku ke alam mimpi.

Aku jalani hariku dengan penuh perjuangan. Bagaimana tidak, di awal aku mondok tak ada satu gamispun yang aku miliki. Hanya baju potongan atas bawah dan beberapa himar yang menurutku lumayan besar untuk ukuran anak luar, perihal kasur, bantal, sampai peralatan sekolah aku dipesankan oleh kakek nenekku di koperasi. Tanpa berpikir panjang dengan hanya berbekal peralatan mandi dan pakaian yang kumiliki aku mencoba menuntut ilmu di pulau seberang. Dan parahnya lagi semua pesanan di koperasi juga masih mengharuskan untuk menunggu barangnya datang. Intinya akupun merasa kesulitan untuk mencuci dan makan apalagi tidur. Tapi, tak salah jikalau Islam memanglah indah. Banyak teman baru yang kukenal dan tak sedikit pula dari mereka yang mau berbagi denganku. Syukurku senantiasa terucap saat itu.

Di saat aku mencoba beradaptasi dengan makanan pondok berupa tempe silet dan nasi yang menurutku jauh dari rasa enak dibarengi dengan antrian panjang dan waktu yang lama untuk mendapatkannya, dituntutnya telinga ini untuk peka terhadap “panggilan kesayangan santri” berupa jaros (baca: bel) yang memekakkan pendengaran dan harus lelah berlari untuk menghindari hukuman ketika telat nantinya, berjuang melawan panasnya ruang kelas yang terbuat dari susunan papan yang biasa kita sebut dengan kelas pelangi, hingga harus berlari-lari ketika hujan, bergantian memakai payung untuk pergi ke kelas dengan tanah yang masyaa Allah beceknya ditambah dengan meja-meja yang harus didempetkan karena ruangan yang bocor. Serta moment-moment terpilu saat aku merasa sendiri dengan tumpukan masalah bercampur rindu yang tak mungkin terbalas, menambah sesak di dalam dada ini.

Dunia baru yang aku fikir akan terhenti di tengah perjalanannya, kini telah kulewati dengan predikat cumlaude untukku dan orang-orang di sekitarku. Banyak memori berharga yang dapat aku pelajari dalam menjalani hidup di pesantren. Banyak nasehat-nasehat indah yang tertuang dalam kisah hijrah pesantrenku. Sosok Ustadz dan Ustadzah keren dan hebat yang telah mengajarkan banyak nilai positive dan keislaman. Dan teman-teman sholihah penyupport hari-hariku. Itu semua telah mengubah dunia kelamku menjadi dunia penuh harapan dan mimpi. Ku teringat akan nasehat kakek saat pertama kali aku akan pergi menginjakkan kaki dipesantren “Nak, tugasmu adalah belajar dan pelajari tiap detik yang kamu lalui. Karena esok kamu akan menjadi pemeran bagi perjuangan untuk menegakkan diinul islam ini dan bukan hanya menjadi penonton yang hanya berpangku tangan. Jadilah engkau orang yang akan mewarnai nantinya dan bukan yang terwarnai.”

Yah.. kini aku tengah berproses memenuhi pesan singkat penuh makna itu. Dan beruntunglah kalian kawan yang telah mengenal dunia pesantren sejak umur belia, dengannya kalian bisa lebih banyak berkontribusi dan menimba ilmu dengan lebih mudah. Doakan aku agar senantiasa memprioritaskan islam di atas segala-galanya. Biarkan lelah asalkan lillah hingga berbuah jannah di jalan dakwah.

By : @azizahelfazah

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here