Banyak anak anak yang sulit berinteraksi dengan masyarakat sekitar. Senang untuk bermain main sendiri, tidak mengenal orang orang disekitaranya dan juga teman teman sebayanya. Asyik lewat HP android dengan berbagai permainan permainannya. Sehingga hal itu terbawa saat telah dewasa.

Jika anak telah dibiasakan untuk bergaul dengan masyarakat sekitar, maka anak tersebut akan mengetahui adab dan sopan santun terhadap orang orang dewasa. Mengetahui bagaiman cara berbelanja. Mengetahui adab dalam shalat jama’ah, walimahan, acara acara pengajian dan lain sebagainya.

Kadang ada beberapa orang tua yang menjauhkan anak anak dari perkumpulan orang dewasa takut jika kurang beradab. Padahal disitulah anak anak diajarkan adab secara langsung. Anak akan paham adab bermajlis. Anak juga akan paham adab shalat jama’ah di masjid. Demikian pula anak ana paham berbagai sopan santun dalam hidup bermasyarakat.

Berikut ini adalah cara atau langkah mengajarkan anak tetang hidup bermasayrakat, diantaranya adalah ;

Pertama; membawa anak anak ketempat orang orang dewasa. Jika anak dibawa pada acara acara orang dewasa, maka ia akan mengenal dirinya. Tahu akan kekurangan dan kelebihan dirinya. Selain itu, anak juga akan mengetahui berbagai etika, mulai etika berbicara, etika dalam bertanya, dan cara bergaul dengan orang yang lebih tua. Itu semua sangat bermanfaat bagi si anak agar kelak menjadi orang yang pandai dalam bergaul.

Dalam sebuah hadist yang diriwayatkan dari Ibnu Sa’ad, juga At Tabari, Abu Nu’aim dan juga yang lainnya, bahwa Ibnu Abbas berkata ; Umar selalu mengikutkan aku ke majlis yang dihadiri tokoh tokoh sahabat yang ikut serta dalam perang badar”.

Bahkan Rasulullah sallallahu ‘alaihi wasallam pun tidak pernah meninggalkan pertemuan pertemuan dengan orang dewasa saat beliau masih anak anak. Beliau dibawa oleh paman paman beliau untuk menghadiri berbagai acara orang dewasa.

Selain anak mendapatkan pembelajaran etika, anak juga akan mendapatkan berbagai nasehat dari orang orang dewasa. Maka orang tua haruslah selektif dalam membawa anak, jangan sampai anak dibawa pada pertemuan orang orang yang rusak akhlaknya. Karena ucapan dan tatakramanya akan rusak.

Kedua; membiasakan anak mengucapkan salam. Setiap orang pasti membutuhkan kata untuk membuka percakapan. Maka ucapan yang paling baik untuk membuka percakapan adalah dengan mengucapkan salam. Demikian pula pada anak anak. Mereka harus diajarkan untuk selalu mengucapkan salam ketika bertemu dengan orang yang lebih tua atau teman sebayanya.

Hal itu telah diajarkan oleh baginda Rasulullah sallallahu ‘alaihi wasallam. Diriwayatkan oleh imam Al Buhari dan Muslim dari anas bin Malik radhiyallahu ‘anhu bahwa beliau sutu hari melawati anak anak yang sedang bermain. Kemudian beliau mengucapkan salam kepada mereka kemudian berkata :” Rasulullah sallallahu ‘alaihi wasallam selalu melaksanakan yang baru saja aku lakukan ( yaitu mengucapkan salam kepada anak anak).

Dalam hadist yang lain, dan dikeluarkan oleh Abu Daud dari Anas ridhiyallahu ‘anhu berkata ; Nabi sallallahu ‘alaihi wasallam datang kepada saya, dan saya ketika itu masih kecil. Seusia dengan teman teman yang biasa bermain denganku. Beliau kemudian mengucapkan salam kepada kami, lalu mengutus untuk mengerjakan keperluan beliau. Dan Beliau menunggu hasil dari tugas yang diberikan.

Ucapan salam orang dewasa kepada anak anak adalah melatih anak agar senantiasa mengucapkan salam pada setiap kesempatan. Ia juga mendidik orang dewasa agar tawadhu’ terhadap anak anak.

Anak anak juga harus diajarkan untuk lebih dahulu mengucapkan salam kepada yang lebih tua. Yang berjalan mengucapkan salam pada yang duduk. Yang berkendaraan juga kepada yang berjalan. Dalam hadist disebutkan ;

عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ عَنْ رَسُولِ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ أَنَّهُ قَالَ يُسَلِّمُ الرَّاكِبُ عَلَى الْمَاشِي وَالْمَاشِي عَلَى الْقَاعِدِ وَالْقَلِيلُ عَلَى الْكَثِيرِ

Dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu dari Rasulullah sallallahu ‘alaihi wasallam, beliau bersabda ; “Hendaknya orang yg berkendaraan memberi salam kepada yg berjalan, & yg berjalan kepada yg duduk & (rombongan) yg sedikit kepada (rombongan) yg banyak.” [HR. Bukhari No.5765].

Anak juga harus dibiasakan untuk mengucapkan salam ketika masuk rumah. Entah rumah mereka sendiri atau rumah yang lain.

Ketiga; melatih anak melakukan transaksi jual beli. Memang dalam jual beli ada persyaratan telah baligh. Tetapi itu dilakukan jika nilai transaksinya dengan nominal yang besar. Seperti jual beli motor, mobil, rumah dan juga yang lainnya. Tetapi jika taransaksinya hanya seperti bumbu dapur, garam, atau juga premen dan yang lainnya, in SyaAllah hal itu dibolehkan.

Melatih anak untuk ikut membantu berjualan dan juga membelikan sesuatu ada banyak manfaat. Anak dilatih untuk terjun di masyarakat agar mengenal jual beli. Memupuk percaya diri dalam masyarakat dan bersungguh sungguh dalam menjalani kehidupan.

Rasulullah sallallahu ‘alaihi wasallam sendiri telah berdagang sejak kecil. Beliau selalu mendo’akan keberkahan terhadap dagangan dan pedagangnya. At Tabari meriwayatkan dari Amru bin Haris, bahwa Rasulullah sallallahu ‘alaihi wasallam berpapasan dengan Abdullah bin Ja’far yang sedang berjualan dengan anak anak. Kemudian beliau berdo’a, “Ya Allah berkahilah ia dalam dagangannya”.

Abdullah bin Ja’far yang sedang berjualan itu adalah anak paman Nabi sallallahu ‘alaihi wasallam sendiri. Beliau tidak malu sepupu kecilnya berdagang. Bahkan beliau mendo’akan keberkahan dalam perdagangannya.

Keempat; mengajak bermalam di rumah famili yang shalih. Bermalamnya anak di famili yang shalih menjadikan anak paham tentang keadaan keluarga lain selain keluarganya. Selain itu, anak juga dapat mengambil ilmu pengetahuan baru dan juga pengalaman ibadah serta akhlak yang baik dalam rumah.

Dalam riwayat Al Bukhari dari Ibnu Abbas radhiyallahu ‘anhu ia berkata, Aku bermalam di rumah bibiku Maimunah bin Harist, istri Nabi sallalllahu ‘alaihi wasallam. Dan di dalam riwayat lain selain Buhari disebutkan, “agar aku dapat memperhatikan bagaimana cara Rasulullah sallallahu ‘alaihi wasallam melaksanakan shalat.”

Jika pada hari ini, anak diajak untuk ikut mabit di masjid sesekali. Diikutkan I’tikaf sepuluh akhir ramadhan. Agar anak dapat belajar dalam masalah ibadah dan akhlak kepada orang lain.

Kelima; memilihkan teman yang baik. Teman yang baik di sini tidak hanya teman bermain saja. Tetapi juga memilihkan guru yang baik, sekolahan yang baik sehingga anak tertulari peringai yang baik pula.

Karena setiap orang termasuk anak anak akan selalu membutuhkan orang lain dalam kehidupan. Agar bisa saling membantu dan bekerjasama dalam kebaikan. Dan jika orang tua dapat memilihkan teman yang shalih pada anak anaknya, maka ia telah memilihkan pintu pendidikan yang baik pula untuk anak anak mereka.

Kebanyakan anak tidak dapat memilih teman yang shalih diantara teman teman yang rusak. Maka disinilah peran orang tua, yang telah banyak mengenyam pahit getir kehidupan memilihkan teman yang shalih pada anak anak mereka.

Itulah beberapa tips mendidik anak dalam bermasyarakat. Ajaklah mereka dalam acara acara bersama masyarakat. Bimbing mereka untuk selalu hadir dalam shalat lima waktu dalam berjama’ah. Ajak mereka untuk menghadiri shalat jum’at. Tentu dengan tetap mengajarkan kepada mereka adab adab yang terkait dengan acara acara tersebut. Semoga dengan hal tersebut anak anak menjadi ceria, paham akan adab adab dalam bermasyarakat. Dan nantinya mereka menjadi orang besar karena kelihaina mereka dalam berkomonikasi dengan orang lain.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here