Oleh : Muhammad Nur

Dosa yang pertama kali dilakukan oleh makhluk Allah Ta’ala adalah kesombongan Iblis. Yaitu ketika Iblis diperintahkan untuk sujud kepada nabi Adam ‘Alaihissalam tetapi tetapi menolak dan mengatakan, “Aku lebih baik darinya, aku diciptakan dari api dan ia diciptakan dari tanah”. Sejak itulah Iblis diusir dari jannah dan diturunkan ke dunia. Menjadi makluk terkutuk hingga hari kiamat. Menggoda manusia siang dan malam tak pernah kenal lelah. Dan nantinya akan kekal di neraka bersama dengan para pengikutnya.

Ternyata jejak iblis ini diikuti oleh anak keturunan Adam. Mereka sombong karena memiliki banyak kekayaan. Memiliki rumah yang indah, mobil yang mewah, dan keluarga yang serba kecukupan. Adapula yang sombong karena memiliki kedudukan yang tinggi di masyarakat. Ada yang sombong karena kekuatan dan kesehatannya. Ada yang sombong karena ilmunya dan gelar yang mentereng di belakang namanya. Ada juga yang sombong karena ketampanan dan kecantikannya. Dan masih banyak lagi. Bahkan ada orang miskin dan tidak memiliki apa yang dapat disombongkan. Tetapi ia tetap berbuat sombong.

عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ قَالَ قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ ثَلَاثَةٌ لَا يُكَلِّمُهُمْ اللَّهُ عَزَّ وَجَلَّ يَوْمَ الْقِيَامَةِ الشَّيْخُ الزَّانِي وَالْعَائِلُ الْمَزْهُوُّ وَالْإِمَامُ الْكَذَّابُ

Dari Abu Hurairah Berkata, Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda,“Tiga golongan yang tak akan diajak bicara oleh Allah pada hari kiamat; ‘Seorang yg sudah tua berzina, orang miskin namun sombong, & pemimpin yg pendusta.” [HR. Nasai No.2528].

Apa itu sombong ?.

Sombong adalah sebuah keadaan dimana seseorang merasa ta’ajub dengan dirinya sendiri. Sehingga ia melihat dirinya lebih mulia dibanding yang lain. Yang lebih parah dari itu adalah sombongnya ia kepada penciptanya dengan menolak kebenaran dan tunduk terhadapnya dengan pentauhidan dan ketaatan. [ Muhammad Ibnu Abdil Wahab, al Kabair bab al kibr ].

Hal ini sesuai dengan hadist Rasulullah Shallallahu alihi wasallam,

لاَ يَدْخُلُ الْجَنَّةَ مَنْ كَانَ فِى قَلْبِهِ مِثْقَالُ ذَرَّةٍ مِنْ كِبْرٍ ». قَالَ رَجُلٌ إِنَّ الرَّجُلَ يُحِبُّ أَنْ يَكُونَ ثَوْبُهُ حَسَنًا وَنَعْلُهُ حَسَنَةً. قَالَ « إِنَّ اللَّهَ جَمِيلٌ يُحِبُّ الْجَمَالَ الْكِبْرُ بَطَرُ الْحَقِّ وَغَمْطُ النَّاسِ

Tidak akan masuk surga orang yang di dalam hatinya ada sebesar dzarrah dari kesombongan.” Salah seorang shahabat lantas bertanya: “Sesungguhnya seseorang senang jika bajunya bagus dan sandalnya baik?” Maka beliau bersabda: “Sesungguhnya Allah Dzat yang Maha Indah dan senang dengan keindahan, Al-Kibru (sombong) adalah menolak kebenaran dan meremehkan manusia.” (HR Muslim dalam Shahih-nya, Kitabul Iman, Bab: Tahrimul Kibri wa Bayanuhu)

Dan kebanyakan isi neraka adalah orang-orang yang sombong. Hal ini sebagaimana dalam hadist yang diriwayatkan oleh Imam Al Bukhari dan Muslim;

 “Maukah kalian aku kabarkan mengenai penghuni surga?” Mereka menjawab, “Mau.” Beliau shallallahu alaihi wasallam bersabda, “Setiap orang yang lemah lagi tertindas, yang seandainya dia bersumpah atas nama Allah, niscaya Allah akan memenuhinya.” Kemudian beliau bersabda, “Maukah kalian aku kabarkan mengenai penghuni neraka?” Mereka menjawab, “Mau. Beliau shallallahu alaihi wasallam bersabda, “Setiap orang yang kasar, keras permusuhannya, yang mengumpulkan harta  tapi tidak mau membaginya, sombong dalam berjalan, dan takabbur.

Menolak kebenaran

Setiap manusia yang hatinya masih lurus selalu siap menerima kebenaran. Tetapi ketika hati sudah terbiasa dengan dosa, terlalu cinta dengan dunia, akhirnya bersikap sombong pada kebenaran.

Banyak orang yang menolak syari’at islam dengan alasan karena tidak cocok dengan masyarakat Indonesia. Banyak yang menolak syari’at jilbab karena ia adalah budaya arab. Banyak yang menolak perintah untuk menyelisihi orang kafir dengan memanjangkan jenggot, memotong kumis dan juga memotong kuku karena ingin meniru budaya barat dari orang orang kafir.

Bukankah telah disebutkan dalam hadist,

أَنَّ رَجُلاً أَكَلَ عِنْدَ رَسُولِ اللَّهِ -صلى الله عليه وسلم- بِشِمَالِهِ فَقَالَ « كُلْ بِيَمِينِكَ ». قَالَ لاَ أَسْتَطِيعُ قَالَ « لاَ اسْتَطَعْتَ ». مَا مَنَعَهُ إِلاَّ الْكِبْرُ. قَالَ فَمَا رَفَعَهَا إِلَى فِيهِ.

Ada seorang laki-laki makan di samping Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam dengan tangan kirinya. Lalu Rasulullah -shallallahu ‘alaihi wa sallam- bersabda, ‘Makanlah dengan tangan kananmu!’ Dia malah menjawab, ‘Aku tidak bisa.’ Beliau bersabda, ‘Benarkah kamu tidak bisa?’ -dia menolaknya karena sombong-. Setelah itu tangannya tidak bisa sampai ke mulutnya.” (HR. Muslim no. 2021).

Jika dalam hal makan saja hingga dido’akan Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam dengan kejelekan, bagaimanakah dengan mereka yang sombong dengan menolak syari’at islam dan memerangi para da’inya yang mengajak pada jalan Allah Ta’ala. Maka ini adalah kesombongan yang paling besar.

Ketahuilah bahwa setiap orang yang berpaling dari kebenaran, Allah Ta’ala pasti akan menghukumnya dengan kecintaan pada kebatilan. Setiap orang yang lari untuk menjadikan Allah dan Rasul-Nya sebagai wali dan pelindung, maka akan Allah jadikan syetan sebagi pelindung mereka. Dituntunlah mereka dari cahaya menuju kegelapan dan akhirnya dicampakkan ke dalam neraka.

Syaikh Shalih Fauzan bin Abdullah Al Fauzan dalam syarh masail jahiliyah yang ke 15 beliau berkata ;

أَنَّ مَنْ تَكَبَّرَ عَنِ الْحَقِّ ولَمْ يَقْبَلْهُ إِذَا بَلَغَهُ, فَإِنَّهُ يُبْتَلَى بِفَسَادِ الْقَلْبِ عَقَوْبَةً لَهُ

Sesungguhnya barangsiapa yang menyombongkan dirinya dari kebenaran, tidak mau menerimanya ketika telah sampai kepadanya. Maka sesungguhnya dia akan ditimpakan musibah berupa rusaknya hati sebagai hukuman terhadapnya”.

Kedua adalah meremehkan manusia

Allah Ta’ala mengukur kemuliaan manusia di dunia dan akhirat dengan takwa. Maka orang yang merasa mulia karena memiliki kedudukan, kekayaan, dan kesuksesan di dunia sementara jauh dari ketakwaan, hakekatnya mereka ini adalah rendah di hadapan Allah Ta’ala.

Orang yang menganggap bahwa orang kaya itu lebih mulia dibandingkan orang miskin, orang berpangkat lebih mulia dibandingkan rakyat. Hal itu adalah pemikiran yang diwariskan oleh Iblis. Dimana ia menganggap bahwa api lebih mulia dari tanah. Sehingga Iblis tidak mau untuk sujud kepada Adam ‘alaihissalam.

Memang bisa jadi di dunia dan dihadapan manusia, kekayaan dan jabatan itu lebih mulia dibandingkan mereka yang miskin dan tidak memiliki jabatan. tetapi dihadapan Allah tidak. Orang yang paling mulia adalah mereka yang paling bertakwa.

إِنَّ أَكْرَمَكُمْ عِندَ اللَّهِ أَتْقَاكُمْ

“Sesungguhnya orang yang paling mulia diantara kamu disisi Allah ialah orang yang paling taqwa diantara kamu.” (QS. Al Hujurat : 13)

Maka tidak pantas untuk meremehkan saudara muslim lainnya karena urusan urusan dunia. Allah Ta’ala telah melarang untuk meremehkan sesama muslim. Sebagaimana disebutkan dalam al-Qur’an ;

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا لَا يَسْخَرْ قَومٌ مِّن قَوْمٍ عَسَى أَن يَكُونُوا خَيْراً مِّنْهُمْ وَلَا نِسَاء مِّن نِّسَاء عَسَى أَن يَكُنَّ خَيْراً مِّنْهُنَّ

“Hai orang-orang yang beriman, janganlah sekumpulan orang laki-laki merendahkan kumpulan yang lain, boleh jadi yang ditertawakan itu lebih baik dari mereka. Dan jangan pula sekumpulan perempuan merendahkan kumpulan lainnya, boleh jadi yang direndahkan itu lebih baik.” QS. Al Hujurat : 11.

Nabi sallallahu alaihi wa sallam bersabda:

سِبَابُ الْمُسْلِمِ فُسُوقٌ ، وَقِتَالُهُ كُفْرٌ

Hinaan orang muslim itu termasuk fasik, dan membunuhnya itu kekufuran.” HR. Bukhori, 48 dan Muslim, 64.

Fenomena saling mencela pada hari ini sudah sangat banyak kita dapatkan. Kaum muslimin yang mengaku bermanhaj salaf as shalih, tetapi dalam hal akhlaq jauh dari cerminan para salaf. Mulut yang bertaring dan kuku yang bercakar diarahkan untuk saudara muslim. Sementara sikap berbaik sangka selalu diarahkan untuk orang orang zindik dan munafik dari penguasa.

Sebutan “orang-orang jahil, ahlul bi’ad, ustadz yang manhajnya menyimpang” dan lain sebagainya diarahkan untuk saudaranya muslim yang beda pemikiran dalam hal-hal ijtihadi. Sementara penghinaan dan pelecehan terhadap islam yang dilakukan oleh orang-orang zindiq dan munafik selalu dibela dengan mengatakan “mereka adalah orang-orang yang belum paham syari’at” dan ucapan-ucapan lainnya untuk membela para penghujat agama.

Ketahuilah bahwa kehormatan dan darah seorang muslim haram hukumnya. Haram untuk menghina saudara muslim dan mencela meski dengan tulisan lewat media sosial. Mengumbar aib saudara yang telah ditutupi oleh Allah Ta’ala. Dan yang lebih parah lagi adalah meyakini bahwa mengghibah dan mencela saudaranya adalah bentuk ibadah kepada Allah Ta’ala. Na’udzubillah min dzaalik.

Bukankah Rasulullah telah berwasiat pada saat haji wada’ sebagaimana disebutkan dalam hadist,

فَإِنَّ دِمَاءَكُمْ وَأَمْوَالَكُمْ وَأَعْرَاضَكُمْ عَلَيْكُمْ حَرَامٌ

“Sesungguhnya darah kalian, harta kalian dan kehormatan kalian haram atas kalian..”

(HR Bukhari Muslim).

Ingatlah bahwa kedzaliman terhadap saudara muslim akan dimintai pertanggungjawabannya di akhirat jika belum diselesaikan di dunia. Jika kebaikan seseorang tidak bisa menutupi kedzaliman, maka akan ditambahkan padanya dosa orang yang ia cela. Kita berlindung dari hal tersebut dan diselamatkan darinya.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here